Korannusantara.id – Bogor, 6 September 2025, Lomba paduan suara ibu-ibu yang digelar Ikatan Keluarga Minang (IKM) bersama Bundo Kanduang Berbudaya Berkesenian (BKBB) di Botani Square Mall, Bogor, menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian kesenian tradisional Indonesia.(5/9)
Acara ini menampilkan semangat perempuan Indonesia usia 40 hingga 70 tahun yang terus berkarya meski keseharian mereka diisi dengan rutinitas rumah tangga.
Kegiatan ini menegaskan bahwa kesenian tradisional seperti tari, menyanyi, puisi, dan teater bukan hanya sarana hiburan, melainkan juga wadah pembentukan karakter serta penguatan identitas budaya bangsa. Partisipasi ibu-ibu dalam lomba ini membuktikan bahwa usia bukanlah batasan untuk berekspresi dan berkontribusi bagi pelestarian budaya.
Peran Penting Pemerintah dalam Pelestarian Budaya
Kementerian Kebudayaan memiliki peran strategis dalam menjaga warisan budaya melalui kebijakan, program pendanaan, hingga festival seni. Dukungan pendidikan seni berbasis budaya lokal di sekolah dan sanggar menjadi kunci penting agar generasi muda tetap mencintai tradisi. Selain itu, pemanfaatan media digital diharapkan dapat memperluas jangkauan promosi kesenian tradisional.
Sementara itu, Pemerintah Daerah (Pemda) juga berperan sebagai fasilitator kegiatan budaya, pemberdaya komunitas lokal, serta penggerak pelestarian budaya daerah melalui dokumentasi dan integrasi dalam pariwisata. Program pemberdayaan perempuan dan pemuda menjadi langkah nyata agar kesenian tradisional terus hidup di tengah arus modernisasi.
Tantangan dan Peluang di Era Digital
Perkembangan media sosial membawa dampak besar bagi kesenian Indonesia. Tren hiburan viral seperti tarian TikTok sering kali menggeser kesenian tradisional. Namun, platform digital juga membuka peluang bagi revitalisasi seni lokal dengan menjangkau audiens yang lebih luas. Kreativitas diperlukan agar generasi muda tetap tertarik pada seni tradisional tanpa meninggalkan nilai autentiknya.
Pelajaran dari Bhutan: Pariwisata Berbasis Pelestarian Budaya
Indonesia dapat belajar dari Bhutan yang sukses menjaga budaya sekaligus mengelola pariwisata berkelanjutan dengan konsep High Value, Low Impact. Dengan membatasi jumlah wisatawan, menerapkan biaya konservasi, serta mewajibkan wisata dipandu oleh pemandu bersertifikasi, Bhutan mampu menjaga budaya dan lingkungan tetap lestari.
Indonesia, dengan 17.504 pulau, 1.331 kelompok suku, dan 694 bahasa daerah, memiliki potensi luar biasa untuk mengembangkan pariwisata berbasis budaya. Desa wisata, festival tradisional, hingga produk kerajinan lokal bisa menjadi daya tarik sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat.
Kesenian Tradisional sebagai Identitas Bangsa
Lomba paduan suara ibu-ibu IKM dan BKBB di Bogor menjadi cermin nyata bahwa pelestarian budaya tidak hanya milik generasi muda, tetapi juga ruang ekspresi bagi perempuan di usia matang. Dengan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat, kesenian tradisional dapat menjadi pilar identitas bangsa sekaligus kekuatan Indonesia dalam menghadapi tantangan global.
( Red )



