Korannusantara.id – Jakarta, Nurcholish Madjid Society (NCMS) menggelar Peringatan Haul ke-20 cendekiawan Muslim Indonesia, Nurcholish Madjid (Cak Nur), di Ballroom JS Luwansa Hotel, Kuningan, Jakarta, Sabtu (30/8/2025). Acara berlangsung khidmat dengan dihadiri tokoh bangsa, akademisi, aktivis, serta masyarakat luas yang ingin mengenang sekaligus melanjutkan gagasan besar almarhum tentang pentingnya masyarakat madani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan mengusung tema “Meningkatkan Kembali Peran Masyarakat Madani”, haul kali ini menjadi momen refleksi spiritual sekaligus forum intelektual untuk merespons tantangan bangsa Indonesia dua dekade setelah wafatnya Cak Nur.
Ketua Umum NCMS, Muhammad Wahyuni Nafis, menegaskan bahwa pemikiran Cak Nur tetap relevan hingga kini.
“Haul ke-20 ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali prinsip keterbukaan, kesetaraan, serta penghormatan pada nilai agama dan kemanusiaan yang diajarkan Cak Nur,” ujarnya.
Ketua Yayasan Wakaf Paramadina, Hendro Martowardoyo, menyoroti urgensi aktualisasi gagasan masyarakat madani di tengah kondisi bangsa yang semakin kompleks. “Polarisasi sosial, penyalahgunaan agama untuk kepentingan politik, dan melemahnya etika berbangsa adalah ujian besar yang kita hadapi. Warisan Cak Nur menjadi jawaban agar Indonesia tetap berpegang pada nilai demokrasi yang inklusif,” tegasnya.
Pidato pembuka disampaikan oleh Omi Komaria Madjid, Ketua Dewan Pembina NCMS sekaligus keluarga besar almarhum. Ia berpesan agar warisan intelektual Cak Nur terus dijaga sebagai inspirasi generasi muda.
“Almarhum bukan hanya pemikir Islam, tetapi juga pejuang demokrasi yang menekankan dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman. Semoga generasi baru dapat melanjutkan perjuangan itu,” tuturnya.
Puncak acara diisi Orasi Budaya oleh Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, yang menekankan pentingnya menghidupkan kembali masyarakat madani sebagai penyangga demokrasi dan moral bangsa.
Selain itu, hadir pula Prof. Dr. Sulistyowati Irianto (Guru Besar Antropologi Hukum UI) dan Dr. Budhy Munawar-Rachman (STF Driyarkara/Paramadina Center) sebagai penanggap. Prof. Sulistyowati menekankan pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan sebagai bagian dari semangat masyarakat madani, sementara Budhy menegaskan bahwa pemikiran Cak Nur harus terus diajarkan di ruang-ruang pendidikan tinggi.
Acara haul ini juga dihadiri sejumlah tokoh bangsa, antara lain ekonom Prof. Dr. Didi Rachbini dan budayawan Romo Franz Magnis-Suseno, yang menegaskan kembali relevansi pemikiran Cak Nur dalam menghadapi tantangan bangsa masa kini.
( Ruslan P )










