• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Artikel

Apakah Indonesia Membutuhkan Dokter Revolusioner?

Penulis: Novita Sari Yahya

Redaksi by Redaksi
25 Agustus 2025
in Artikel
0
Apakah Indonesia Membutuhkan Dokter Revolusioner?

Ket : Penulis : Novita Sari Yahya

0
SHARES
23
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pertanyaan ini muncul ketika saya membaca sebuah postingan di Twitter yang ditulis oleh seorang dokter. Tulisan lengkapnya adalah:

“Ibu saya, Farida Hanum Bustamam, mengatakan bahwa saat menjadi dokter, kita bisa menyembuhkan banyak orang. Kemudian, diberikan makna tambahan oleh guru neurointervensi saya, Prof. Jao Li Qun, bahwa dengan menjadi dokter peneliti, kita akan menyembuhkan ribuan orang lebih banyak. Akan tetapi, satu pesan yang selalu tergiang di kepala saya adalah ucapan Dr. Sun Yat Sen, yaitu jika menjadi seorang dokter revolusioner, maka dapat menyembuhkan satu bangsa.”

Definisi Dokter Revolusioner

Berdasarkan beberapa referensi, pengertian dokter revolusioner adalah dokter yang tidak hanya menjalankan praktik kedokteran, tetapi juga berperan aktif dalam perubahan sosial, politik, dan kemerdekaan suatu bangsa. Mereka menggunakan keilmuan dan posisi mereka untuk melawan penindasan, menyebarkan gagasan baru tentang kesetaraan dan pendidikan, serta menginisiasi gerakan untuk kemerdekaan.

Contoh Dokter Revolusioner

Beberapa contoh dokter revolusioner adalah:

1. Dr. Wahidin Soedirohoesodo (Indonesia)

2. Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (Indonesia)

3. Dr. José Rizal (Filipina)

4. Dr. Ernesto “Che” Guevara (Argentina/Kuba)

5. Dr. Sun Yat Sen (China)

6. Dr. Radjiman Wedyodiningrat (Indonesia)

7. Drg. Moestopo (Indonesia)

8. Dr. Sagaf Yahya (Indonesia)

Saya merasa bangga ketika membaca bahwa beberapa dokter Indonesia tercatat sebagai dokter revolusioner. Perjuangan mereka tidak hanya terbatas pada praktik kedokteran, tetapi juga melibatkan perubahan sosial dan politik yang signifikan.

Yang membuat saya tersenyum adalah nama kakek saya, dr. Sagaf Yahya, tercantum sejajar dengan dokter revolusioner lainnya dari seluruh dunia.

Kisah dr. Sagaf Yahya, Dokter Revolusioner dari Jambi

Ayah saya, dr. Enir Reni Sagaf Yahya, menceritakan bahwa ketika berusia 5 tahun, ia sering mengantarkan makanan ke penjara untuk ayahnya, dr. Sagaf Yahya, yang dipenjara oleh Jepang.

Pendiri Partai Parindra di Jambi

Dr. Sagaf Yahya adalah pendiri Partai Parindra di Jambi pada tahun 1935. Partai ini merupakan partai terbesar dengan sistem kaderisasi terbaik, terutama di kalangan pemuda. Parindra disiapkan untuk perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.

Ketika Jepang masuk ke Jambi pada tahun 1942, dr. Sagaf Yahya dipenjarakan selama 3 tahun karena dianggap sebagai pendiri partai dan bagian dari persiapan kemerdekaan Indonesia. Setelah dibebaskan, beliau memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jambi dan menjadi Residen pertama Jambi pada tahun 1945.

Pengalaman Ayah Saya

Ayah saya juga menceritakan pengalamannya sebagai mahasiswa kedokteran yang bergabung dengan PRRI. Banyak temannya yang meninggal dalam perjuangan tersebut. Setelah mendapat amnesti dari Presiden Soekarno, ayah saya melanjutkan kuliah di FK UNAND dan kemudian bekerja sebagai dokter di puskesmas, RSUD, hingga di Kelantan, Malaysia.

Dokter Revolusioner: Dipenjara, Disingkirkan, Dibunuh

Gambaran nyata ini adalah bagian dari sejarah yang menunjukkan bahwa dokter revolusioner kerap dipenjara, dibunuh, atau disingkirkan karena perjuangan mereka.

Bagaimana dengan dokter revolusioner di zaman Orde Baru? Saya teringat pada Hariman Siregar, seorang dokter yang menjadi aktivis dan menjalani kehidupan pahit akibat sikap kritisnya terhadap rezim.

Dokter Revolusioner Zaman Orde Baru: Hariman Siregar

Hariman Siregar adalah contoh dokter revolusioner generasi ketiga. Ia harus menghadapi berbagai penderitaan setelah peristiwa Malari 1974: mendekam di penjara, kehilangan bayi kembar, sang istri yang mengalami gangguan ingatan, wafatnya sang ayah, serta mertuanya (Prof. Sarbini Soemawinata) yang juga dipenjara.

Meski demikian, Hariman tidak menyerah. Ia menyadari bahwa semua penderitaan itu adalah konsekuensi dari sikap kritis terhadap rezim otoriter. Selama di penjara, ia menulis catatan harian sebagai bentuk perlawanan batin. Bagi Hariman, tugas seorang dokter revolusioner bukan hanya mengobati pasien, tetapi juga menggerakkan perubahan sosial, melawan ketidakadilan, kesenjangan, penindasan, dan korupsi.

Pertanyaan untuk Dokter Indonesia Hari Ini

Dengan kondisi Indonesia saat ini:

1. Apakah sudah saatnya muncul dokter revolusioner generasi keempat?

2. Apakah dokter hari ini siap menghadapi risiko perjuangan sebagaimana generasi pertama, kedua, dan ketiga?

3. Apakah semangat revolusioner generasi dokter sebelumnya masih ada dalam jiwa dokter Indonesia saat ini?

Jawabannya ada pada diri dokter Indonesia yang membaca tulisan ini.

Hidup perjuangan rakyat! Merdeka, merdeka, merdeka 100 persen!

Referensi

Husin Akip Cs. Kibarkan Bendera di Menara Air.

Hasibuan, I., Airlambang, & Yosef Rizal. (2011). Hariman dan Malari: Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing. Jakarta: Q-Communication.

Hariman, Malari, dan Generasi Ketiga Dokter Pergerakan. KBA News.

Peristiwa Malari 1974: Demonstrasi Tolak Kunjungan PM Jepang Kakuei Tanaka Berujung Rusuh.

PRRI, Uji Nyali Orang Minang Lawan Soekarno. Prokabar.

Zainuddin, R., dkk. (1978/1979). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi. Jakarta: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

487
Tags: ArtikelDokterdrIndonesiaNovita Sari YahyaRevolusioner
Previous Post

Aktivis Pemuda Nasional Apresiasi Respons Cepat Polres Madina Usai Kecelakaan yang Menewaskan Siswi SMA

Next Post

Kapuspen TNI Buka Penataran Penerangan Terintegrasi Puspen TNI TA 2025

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
Kapuspen TNI Buka Penataran Penerangan Terintegrasi Puspen TNI TA 2025

Kapuspen TNI Buka Penataran Penerangan Terintegrasi Puspen TNI TA 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Ucapan Selamat

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.