Korannusantara.id – Nagekeo, NTT, Kebahagiaan keluarga Prada Lucky Chepril Saputra Namo berubah menjadi duka mendalam. Prajurit muda ini baru dua bulan mengemban pangkat Prajurit Dua (Prada), namun sudah harus meregang nyawa diduga akibat dianiaya empat seniornya di Batalion Teritorial Pembangunan (TP) 834 Waka Nga Mere Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).(10/8)
Komandan Kompi (Danki) C Yon TP 834/WM, Lettu Inf Rahmat, membenarkan adanya keterlibatan empat anggota TNI berpangkat Prajurit Satu (Pratu) dalam kasus ini. “Tim menemukan empat orang terduga pelaku pemukulan,” ujarnya.
Prada Lucky lulus pendidikan TNI pada Februari 2025 dan dilantik di Rindam IX Udayana, Singaraja, Bali, pada Juni 2025. Putra kedua dari empat bersaudara ini merupakan anak pasangan Sersan Mayor (Serma) Christian Namo, anggota TNI di Kodim 1627 Rote Ndao, dan Sepriana Paulina Mirpey.
Kepada keluarganya, kelulusan Lucky adalah pencapaian besar. Setelah dilantik, keluarga menggelar syukuran sebagai ungkapan rasa bangga. Lucky bahkan menuliskan pesan penuh haru di selembar karton putih, “Terima kasih Tuhan. Terima kasih Bapa, Mama. Anakmu ini jadi tentara. Mimpiku terwujud di umur terakhir.”
Namun, perjalanan kariernya terhenti tragis. Pada Sabtu (2/8/2025), Lucky masuk RSUD Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, dengan kondisi luka memar di dada, perut, dan punggung. Kepada dokter yang merawat, ia mengaku dipukuli oleh seniornya di barak. Setelah menjalani perawatan intensif, nyawanya tak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (6/8/2025).
Sang ayah, Serma Christian Namo, tak kuasa menahan amarah. Ia menuntut proses hukum yang transparan dan hukuman setimpal bagi para pelaku. “Saya tuntut pakai hak saya sebagai manusia. Ini sudah nyawa, bukan sekadar aturan keadilan. Nyawa anak saya. Saya tentara merah putih. Saya akan kejar pelakunya sampai kemana pun,” tegasnya.
Kasus kematian Prada Lucky kini menjadi sorotan publik. Pihak berwenang diharapkan mengusut tuntas agar keadilan benar-benar ditegakkan, bukan hanya demi keluarga korban, tetapi juga untuk memastikan tidak ada lagi prajurit muda yang kehilangan nyawa karena kekerasan di lingkungan barak.
( Red )










