Korannusantara.id – Bulan Suro, atau Muharram dalam kalender Hijriah, dipercaya memiliki makna spiritual dan mistis yang mendalam bagi masyarakat Jawa. Selain sebagai awal tahun baru Jawa, bulan ini dianggap sakral dan penuh dengan berbagai pantangan serta tradisi yang diyakini dapat membawa keberkahan atau kesialan tergantung pada pelaksanaannya.
Makna Bulan Suro:
Awal Tahun Jawa:Bulan Suro menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa yang beriringan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah.
Waktu untuk Introspeksi:Bulan Suro dianggap sebagai waktu yang baik untuk melakukan introspeksi diri, merenungkan perbuatan di masa lalu, dan memperbanyak ibadah serta mendekatkan diri kepada Tuhan.
Harmoni dan Keseimbangan:Bulan Suro juga dipercaya sebagai waktu untuk menjaga keseimbangan antara dunia lahir dan batin, serta menjaga keharmonisan dengan alam semesta.
Pantangan dan Hal Mistis:
Meskipun memiliki makna spiritual yang mendalam, bulan Suro juga lekat dengan berbagai pantangan dan mitos yang diyakini masyarakat Jawa. Beberapa di antaranya adalah:
Tidak Boleh Keluar Rumah (terutama Malam Hari):Masyarakat Jawa meyakini bahwa pada malam 1 Suro, sebaiknya tidak keluar rumah, terutama pada malam hari, karena dipercaya ada energi negatif atau makhluk halus yang berkeliaran.
Tidak Boleh Mengadakan Pesta atau Hajatan:Menggelar acara besar seperti pernikahan, sunatan, atau acara hajatan lainnya dianggap pamali dan dapat mendatangkan kesialan atau bencana.
Tidak Boleh Berbicara Kasar atau Kotor:Berbicara kasar, kotor, atau berisik dianggap dapat mengganggu kesakralan bulan Suro dan bahkan dipercaya dapat mendatangkan kesialan.
(dikutip dari berbagai sumber, 23/7/25)



