• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Opini

Saiful Chaniago Pemerkosaan Mei 1998 Tak Patut dituliskan, Penistaan Sejarah

Redaksi by Redaksi
2 Juli 2025
in Opini
0
Saiful Chaniago Pemerkosaan Mei 1998 Tak Patut dituliskan, Penistaan Sejarah

Ket : Saiful Chaniago

0
SHARES
18
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Korannusantar.id – Jakarta, Wakil Ketua Umum DPP KNPI, Saiful Chaniago, menyatakan dukungannya terhadap langkah Kementerian Kebudayaan yang dipimpin oleh Fadli Zon dalam upaya penulisan ulang sejarah nasional. Menurut Saiful, keputusan untuk tidak memasukkan insiden pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis Tionghoa pada tragedi Mei 1998 ke dalam buku sejarah dinilai sebagai langkah yang tepat.

Saiful menyampaikan pada awak media bahwa “Kasus pemerkosaan 1998 adalah insidentil, terjadi tiba-tiba, dan tidak mencerminkan nilai-nilai dasar yang patut ditulis dalam sejarah bangsa,” ujar Saiful dalam keterangannya, Rabu (2/7/2025) jakarta.

Ia menilai bahwa jika semua bentuk kriminalitas yang bersifat insidentil dimasukkan ke dalam buku sejarah, maka akan ada lebih banyak kasus serupa yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia — dari era Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi dan khawatirnya sebagian kasus itu tidak terinventarisi di dalam sejarah yang akan diterbitkan.

“Pertanyaannya, apakah semua kasus insidentil itu layak ditulis dalam sejarah nasional? Jawabannya tentu tidak,” tegas Saiful.

Menurutnya, penulisan sejarah seharusnya berfokus pada peristiwa-peristiwa yang membawa nilai kemaslahatan dan berkaitan langsung dengan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kasus-kasus yang bersifat lokal, individual, atau insidentil — meskipun tragis — dianggapnya tidak memiliki kontribusi terhadap pembangunan narasi nasionalisme.

“Sejarah bangsa harus membangkitkan semangat kebangsaan dan memperkuat identitas nasional, bukan membuka luka yang tidak memiliki nilai kebangsaan yang luas,” tutup Saiful.

631
Tags: Fadli ZonPemerkosaan MassalPemerkosaan Tionghoa 1988Saiful ChaniagoSejarahSejarah 1988
Previous Post

Puncak Perayaan HUT Ke-45 Dekranas Bakal Digelar di Kaltim, Tri Tito Karnavian: Momentum Baik Promosikan Kerajinan Daerah

Next Post

Kasad Ajak Prajurit Jadikan Tahun Baru Islam Sebagai Momentum Hijrah

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
Kasad Ajak Prajurit Jadikan Tahun Baru Islam Sebagai Momentum Hijrah

Kasad Ajak Prajurit Jadikan Tahun Baru Islam Sebagai Momentum Hijrah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.