• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
Advertisement
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Nasional

Hijrah: Tonggak Baru Sejarah Peradaban

Ditulis Oleh: Wahyu Triono KS, Pendiri dan Pengasuh TPA LEADER

Redaksi by Redaksi
27 Juni 2025
in Nasional
0
Hijrah: Tonggak Baru Sejarah Peradaban

Ket : Wahyu Triono KS ( Penulis)

0
SHARES
20
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Korannusantara.id – Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1447 Hijriyah, kembali menyapa. Ia datang bukan sekadar penanda waktu, melainkan seruan hening yang mengetuk pintu hati umat manusia. Dalam senyap malam yang bersahaja, terbitlah fajar hijrah sebagai cahaya yang membelah kegelapan zaman.

Hijrah bukan hanya cerita sejarah yang tersimpan di lembaran kitab suci. Ia adalah napas yang terus hidup, denyut yang mengalir di dada umat. Hijrah adalah perjalanan —dari kegelapan menuju terang, dari kebohongan menuju kejujuran, dari kezaliman menuju keadilan.

Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tapi berpindah sikap, berpindah tekad, dari dunia yang sesak oleh tipu daya menuju jalan yang diridhai sang pencipta.

Hijrah bukan hanya langkah kaki, tapi gerak jiwa menuju cahaya —Refleksi 1 Muharram 1447 Hijriyah adalah upaya menyusuri jejak cahaya sebagai tonggak baru sejarah peradaban menuju kebenaran, kejujuran dan keadilan.

Hijrah Nabi Titik Nol Peradaban Baru

Perjalanan Rasulullah Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukanlah sekadar pelarian, tapi fondasi awal peradaban Islam yang berasaskan tauhid, ukhuwah, dan keadilan. Di kota yang dulunya bernama Yatsrib itu, terbangun masyarakat inklusif yang menjunjung kemanusiaan. Di sanalah ayat-ayat sosial diturunkan: tentang zakat, hak minoritas, musyawarah, dan hukum.

Hijrah adalah keberanian untuk berubah, berani meninggalkan zona nyaman demi mewujudkan visi luhur dan agung. Maka dari itu, 1 Muharram bukan sekadar perayaan, tetapi panggilan spiritual dan sosial. Inilah suatu peristiwa ketika kaki melangkah bukan sekadar menghindar, tapi menjemput cahaya yang Tuhan titipkan di cakrawala masa depan. Karenanya makna Hijrah Nabi Muhammad SAW adalah merupakan:

Pertama, Hijrah untuk membangun kembali. Hijrah adalah awal dari gelap yang mencekam di tanah Mekah yang gersang, di mana kebenaran terbungkam oleh tirani, Nabi Muhammad SAW berdiri sendiri, menyuarakan langit di tengah kerumunan bumi. Sepuluh tahun dakwah yang penuh luka, disambut cemooh, dilempar batu, disiksa dan didustakan.

Dan Allah SWT menguatkan melalui Al Quran Surat Ar-Rum Ayat 60: “Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad)! Sesungguhnya janji Allah itu benar. Jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu membuat engkau bersedih.”

Hati Rasulullah Muhammad SAW tak pernah gentar, karena dalam luka, tumbuh iman yang mekar. Dan ketika langit belum memberi kemenangan di tanah kelahiran, turunlah perintah hijrah —bukan untuk melarikan diri, tapi untuk membangun kembali.

Kedua, Hijrah adalah langkah menuju cakrawala baru. Madinah memanggil dengan harap, sebuah kota yang belum sempurna, namun terbuka pada kebenaran yang membawa cahaya. Maka Rasulullah Muhammad SAW melangkah —bukan sebagai pelarian, tapi sebagai arsitek masa depan. Abu Bakar menemaninya, malam jadi saksi, Gua Tsur jadi tempat sembunyi —namun Allah-lah pelindung sejati.

Itulah titik nol itu —ketika hijrah bukan sekadar berpindah, tapi mengubah sejarah. Karenanya jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita, sebagaimana Al Quran Surat At-Taubah Ayat 40 Allah berfirman:

“Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Ketiga, Hijrah ke kota Madinah adalah mimpi yang menjadi nyata. Di tanah yang baru, Rasulullah Muhammad SAW tidak membalas dengan pedang, tapi dengan peradaban. Dibangunlah Masjid —pusat ilmu dan iman. Dibentuklah Piagam Madinah —awal konstitusi kemanusiaan.

Hijrah adalah nyala pertama peradaban yang adil, di mana Yahudi, Muslim, dan lainnya hidup damai dalam satu ikatan sipil. Dari seorang nabi, lahirlah negarawan. Dari umat yang ditindas, lahirlah peradaban.

Keempat, Hijrah adalah titik nol saat sejarah ditulis ulang. Tahun hijrah bukan sekadar kalender, tapi tanda bahwa perubahan dimulai dari iman yang benar. Hijrah adalah titik nol —bukan angka kecil, tapi poros utama dari kebangkitan yang besar. Hijrah itu bukan hanya berpindah tempat, tapi berpindah dari gelap menuju cahaya yang lekat sebagai suatu sajak peradaban.

Dari Madinah, Islam menyebar —bukan dengan kekuasaan semata, tapi dengan hikmah dan kasih sayang. Sehingga hijrah adalah bukti bahwa kemenangan bukan milik mereka yang kuat,
tapi milik mereka yang istiqamah dalam kebenaran.

Hijrah Dalam Konteks Kekinian

Dalam konteks kekinian hijrah hari ini, ketika zaman telah berubah, tetapi roh hijrah tetap menyala. Bukan lagi hijrah fisik semata, melainkan hijrah hati, akhlak, dan makna.

Di dalam Hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dinyatakan bahwa, “Sesugguhnya (setiap) amalan itu tergantung kepada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan apa yang diniatkannya. Siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena ingin mendapatkan Dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnnya sesuai dengan niatnya.”

Hijrah dalam kontek kekinian adalah hijrah ke arah yang lebih baik. Karena di zaman yang penuh gejolak ini —saat kejujuran kerap dikalahkan oleh kepentingan, dan kebenaran tertutup oleh polesan retorika— hijrah menjadi lebih relevan dari sebelumnya.

Tahun baru ini bukan sekadar angka, tetapi jendela untuk melihat lebih dalam, apakah kita masih diam dalam kebisuan atau berani bersuara untuk kebenaran? Dengan makna semacam itu maka 1 Muharram 1447 Hijriyah adalah sebagai tonggak baru peradaban, dengan tiga pilar utama: Pertama, Hijrah menuju kebenaran. Tinggalkan narasi palsu dan fitnah yang merajalela. Kembalilah pada nilai-nilai yang hakiki. Kebenaran adalah kompas utama umat, tak boleh dikaburkan oleh opini.

Kedua, Hijrah menuju kejujuran. Dalam rumah tangga, pekerjaan, dan pemerintahan —kejujuran adalah fondasi kepercayaan. Di era disinformasi, jujur adalah bentuk jihad intelektual.

Ketiga, Hijrah menuju keadilan. Keadilan bukan hanya milik yang kuat, tapi hak semua. Kita harus menegakkannya meskipun untuk itu kita harus menentang arus, menghadapi risiko, ancaman, tekanan dan bahaya.

Jika zaman menjadi kabur dan samar, maka jadilah pelita yang mengusir gelap, jangan takut menjadi berbeda selama engkau bersama kebenaran, kejujuran dan keadilan.

Penutup

Sebagai makna yang bersifat reflektif, seruan hijrah pada 1 Muharram 1447 Hijriyah adalah panggilan jiwa. Bukan hanya untuk mengenang, tapi untuk melangkah. Hijrah hari ini bukan lagi tentang berpindah kota, tapi berpindah dari kelalaian menuju kesadaran. Dari kebimbangan menuju keberanian. Dari kepalsuan menuju kebenaran, dari kebohongan menuju kejujuran dan dari kezaliman menuju keadilan.

Dengan demikian tahun baru 1 Muharram 1447 Hijriyah adalah menjadi tahun keberanian untuk berubah, tahun hijrah yang hakiki —Bukan hanya dalam kata, tapi nyata dalam langkah.

Allah SWT melalui Firmannya di dalam Al Quran Surat An-Nisa Ayat 100, memberi janji: “Siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [WT, 27/6/2025].

Ditulis Oleh: Wahyu Triono KS, Pendiri dan Pengasuh TPA LEADER (Taman Pendidikan Al Quran Lembaga Edukasi Anak Didik Edukatif dan Religius), CIA Indonesia, Kader Utama Pemuda Pancasila dan Tenaga Ahli Dekonsentrasi Tugas Pembantuan dan Kerja Sama Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri.

691
Tags: 1 Muharram 1447 HijriyahArtikelHijrahTahun Baru HijriahTahun Baru IslamWahyu Triono KS
Previous Post

Film Pangku :Potret Emosi Mendalam Seorang Ibu

Next Post

PB HMI Apresiasi Terobosan Agus Andrianto: Wujud Implementasi Gagasan Presiden Prabowo

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
PB HMI Apresiasi Terobosan Agus Andrianto: Wujud Implementasi Gagasan Presiden Prabowo

PB HMI Apresiasi Terobosan Agus Andrianto: Wujud Implementasi Gagasan Presiden Prabowo

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Ucapan Selamat

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.