• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
Advertisement
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Daerah

Bakti Religi-Lingkungan, “Di Tanah Melayu Aku Bertanya”, Seruan Puitis Kapolda Riau Irjen Herry untuk Jaga Lingkungan

Putra by Putra
19 Juni 2025
in Daerah
0
Bakti Religi-Lingkungan, “Di Tanah Melayu Aku Bertanya”, Seruan Puitis Kapolda Riau Irjen Herry untuk Jaga Lingkungan

Ket Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan saat membacakan puisi. (Foto: Polda Riau)

0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Korannusantara.id, Jakarta – Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan kembali menyampaikan pesan mendalam tentang kepedulian terhadap lingkungan. Melalui sebuah puisi dengan judul “Di Tanah Melayu Aku Bertanya”, seruan ini bukan sekadar imbauan biasa, melainkan ajakan seluruh masyarakat untuk merefleksikan diri agar menjaga kelestarian alam.

Puisi tersebut dibacakan oleh Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan di Pulau Tongah, Tanjung Belit, Kabupaten Kampar, Riau, pada Rabu malam (18/6/2025) dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara ke-79 bertema ‘Bakti Religi dan Lingkungan’.

Kegiatan yang juga memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini dihadiri oleh Wakapolda Riau Brigjen Jossy Kusumo serta sejumlah pejabat utama (PJU) Polda Riau, Gubernur Riau Abdul Wahid, Ustaz Abdul Somad (UAS), para bupati se-Provinsi Riau, Rocky Gerung, Prof Tommy Awuy, gerakan Pramuka serta ratusan masyarakat setempat.

Pesan yang disampaikan oleh Irjen Herry Heryawan ini menggarisbawahi filosofi bahwa bumi adalah titipan, bukan warisan semata, yang harus dijaga demi keberlangsungan hidup dan marwah Bumi Lancang Kuning. Puisi tersebut merupakan sebuah seruan mendalam yang menggugah kesadaran tentang kondisi lingkungan dan adat di Tanah Melayu.

Lebih dari sekadar untaian kata, puisi ini adalah manifesto kegelisahan dan ajakan untuk bertindak yang disuarakan dari lubuk hati seorang pemimpin. Puisi tersebut menyiratkan keresahan atas kerusakan lingkungan, adanya penebangan hutan hingga penambangan.

Dengan puisi tersebut, Irjen Herry Heryawan mengajak masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan. Karena bumi ini adalah warisan yang harus dijaga.

Sentuhan religi yang disampaikan oleh UAS melalui ceramahnya yang mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan semakin menambah khidmatnya malam ‘Religi dan Bakti Lingkungan’ ini.

Berikut petikan puisi yang dibacakan oleh Irjen Herry Heryawan:

Di Tanah Melayu, Aku Bertanya

Wahai angin dari Timur,

Sampaikan salamku pada hutan yang hampir jadi kabar,

Pada sungai yang menangis dalam sunyi alirannya.

Di tanah Melayu, aku bertanya:

Masih adakah nyanyi pantun yang menjaga bumi?

Atau semua telah jadi cerita

Cerita hutan yang ditebang tanpa timbang,

Sungai yang dicemari nama pembangunan,

Udara yang kini bertukar jadi abu dan amarah.

Dulu, datuk nenek kami menanam syair

Di balik ladang, di tepi sungai, di dasar doa.

Mereka berkata:

Kalau engkau rusak rimba,

Maka anak cucumu takkan berimba.

Kalau engkau lupa adat,

Maka engkau hanyut tak bersemat.

Tapi kini?

Hutan ditebang demi kuasa

Sungai ditambang demi laba

Gunung dilukai, tanah dijual,

Dan adat-tinggal di museum suara!

Wahai hutan Bukit Tigapuluh

Wahai Danau Zamrud yang tak lagi jernih

Wahai gambut yang terbakar dalam senyap

Kami bersaksi!

Bahwa kami pernah hidup di antara daun yang bersujud

Bahwa kami pernah menyusui bumi dari peluh petuah

Tapi kini kami bangkit!

Dengan syair di tangan kanan,

Dengan pantun di dada kiri,

Dengan adat yang tak bisa dibeli

Dan bumi yang tak sudi dibagi!

Wahai anak Melayu!

Jika kau cinta tanah ini

Maka cintailah angin,

Maka jagalah sungai,

Maka rawatlah hutan,

Karena di situlah nenek moyangmu

Menitipkan hidup, bukan sekadar warisan

Tapi amanah.

Di tanah Melayu, aku tak sekadar membaca syair

Aku bersaksi atas luka

Aku berjanji atas cinta

Dan aku berseru:

“Bumi ini bukan warisan,

Tapi titipan yang harus kita pulangkan…

Dalam keadaan utuh dan beradab.” (red)

213
Tags: Bakti Religi dan LingkunganGubernur RiauHUT Bhayangkara-79Irjen Pol HerryKapolda RiauPolri Untuk MasyarakatUAS
Previous Post

Wagub DKI Jakarta Rano Karno Siap Dukung Rieke Diah Pitaloka dalam Film Terbaru “Agen +62”

Next Post

Alimudin Usulkan Pembangunan Jalur Pedestrian di Bantaran Kali Cijambe, Bekasi

Putra

Putra

Next Post
Alimudin Usulkan Pembangunan Jalur Pedestrian di Bantaran Kali Cijambe, Bekasi

Alimudin Usulkan Pembangunan Jalur Pedestrian di Bantaran Kali Cijambe, Bekasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Ucapan Selamat

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.