• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
Advertisement
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Artikel

Naluri Keibuan: Bahasa Cinta yang Tak Pernah Usai

Redaksi by Redaksi
15 Juni 2025
in Artikel
0
Naluri Keibuan: Bahasa Cinta yang Tak Pernah Usai

Ket : Naluri Keibuan: Bahasa Cinta yang Tak Pernah Usai

0
SHARES
22
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Korannusantara.id – “Di setiap pelukan ibu, semesta menemukan kedamaian.” —Quote ini mewakili tentang perilaku dan naluri keibuan makhluk peliharaan yang menjadi kesayangan di rumah.

Setelah melahirkan anak-anaknya untuk ketujuh kalinya, Cilang (Kucing Hilang dan Kucing Datang) yang menjadi bagian dari kehidupan di rumah kami, hanya satu anaknya yang masih hidup sampai usia remaja, kami beri nama Moly, selebihnya satu demi satu anak-anak Cilang yang ia lahirkan meninggal karena sakit yang di derita.

Beberapa bulan yang lalu, setelah melahirkan terjadi suatu tragedi yang menyakitkan, Cilang mendapatkan musibah, tetangga sebelah rumah bercerita bahwa Cilang ditabrak motor oleh seseorang pengendara yang tidak dikenal. Sebahagian tubuhnya terluka dan mulutnya mengalami luka dan memar membiru dan menghitam.

Selama proses pengobatan dan penyembuhan, tingkat perhatian, menyusui dan menyayangi 3 (tiga) anaknya menjadi sedikit ditelantarkan dan dalam rentang waktu, satu persatu anak-anaknya meninggal. Kemudian ada dua anak kucing lain yang datang dan sampai saat ini hanya satu yang masih bertahan.

Mengikuti perilaku Cilang dengan anak tirinya yang diberi nama Atrilang (Anak Tiri Cilang) mengigatkan sisi naluri keibuan yang bukan hanya dimiliki oleh manusia tetapi juga makhluk lainnya seperti kucing dan hewan yang lainnya.

Awalnya kedatangan Atrilang tidak disambut baik secara well come home oleh Cilang, diusir dan secara paksa diminta untuk menjauh. Tetapi lama kelamaan, bahkan ketika anak-anak Cilang masih hidup menjelang akan meninggal, Atrilang diperlakukan secara baik, disusui dan dimanjakan dengan pelukan, dijilati dan diperhatikan. Panggilan keibuan itu tampaknya begitu terlihat dan begitu menarik untuk diamati dan ditiru.

Mengamati naluri keibuan itu ada suatu penjelasan bahwa, dalam semesta yang luas, di balik riuhnya rimba dan sunyinya padang pasir, ada satu kekuatan lembut yang menyatukan kehidupan: naluri keibuan. Ia tak mengenal rupa, tak memilih bentuk, tak terbatas oleh bahasa atau akal. Ia adalah getaran sunyi yang mengalir dari hati setiap makhluk hidup, dari manusia hingga serangga mungil yang hidup hanya semusim.

Naluri yang tak diajar, tapi dirasakan seekor burung kecil di atas dahan, rela menyuapi anak-anaknya lebih dahulu, meski paruhnya sendiri retak oleh lapar. Seekor rusa di tengah bahaya akan berlari menjauh, hanya untuk memancing pemangsa dari anaknya. Bahkan hiu yang tampak buas menyembunyikan kelembutan, membawa anaknya jauh ke dalam samudra gelap, melindungi dari mara bahaya.

Keibuan bukan perkara rahim semata, tapi soal rela menjadi benteng terakhir bagi kehidupan. Tak perlu ajaran atau teori. Seekor kucing liar, ketika melahirkan, tahu bahwa anak-anaknya perlu kehangatan dan susu. Seekor gajah betina, saat kawanan dalam ancaman, berdiri di garis depan untuk melindungi anak-anak gajah. Inilah cinta yang tak bersuara, namun menggelegar dalam tindakan.

Dari alam, kita belajar manusia yang menganggap diri paling berakal, kerap lupa bahwa pelajaran paling luhur datang dari alam. Dari kelembutan induk ayam yang memayungi anaknya saat hujan, dari pengorbanan induk beruang yang kelaparan agar anaknya kenyang, dari duka paus betina yang merintih selama berminggu-minggu saat anaknya mati.

Cinta ibu adalah bahasa pertama yang dikenali semua jiwa, bahkan sebelum mengenal nama. Keibuan adalah puisi yang tidak ditulis dengan kata, tapi dengan tindakan. Ia mengalir di dalam darah, berdenyut dalam tulang, dan menyala dalam peluh serta air mata.

Naluri yang menyelamatkan dunia, agar dunia ini tetap seimbang karena cinta yang tanpa pamrih. Karena ada yang rela berjaga di malam dingin demi nyawa kecil. Karena ada pelukan pertama yang menyambut kehidupan dan pelukan terakhir yang melepasnya dengan doa.

“Setiap makhluk yang melahirkan, memelihara, dan melindungi —adalah pujangga sejati dalam syair kehidupan.”

Naluri keibuan bukan hanya milik manusia. Ia adalah warisan semesta. Cinta purba yang telah ada sebelum kata-kata. Ia adalah cahaya kecil yang menjaga gelap tak berkuasa.

Maka, tunduklah sejenak kepada ibu-ibu semesta: induk kucing, induk burung, induk singa, induk kura-kura, dan seluruh makhluk yang membisikkan cinta melalui keberanian, kesabaran, dan pengorbanan. “Karena di mana ada ibu, di sanalah bumi bersenandung.”

Dari alam dan naluri keibuan dari makhluk dan ibu-ibu yang mencintai anaknya dengan caranya –meski banyak luka yang ia rasakan dan ia terima tetap akan ia sembunyikan selamanya, karena kasih sayang dan naluri keibuan melebihi dari segalanya.

Pada sisi itu, dengan naluri keibuan seorang ibu yang memberi kasih sayang tanpa batas dan tanpa berharap balas, maka sudah menjadi kewajiban seorang anak untuk membalasnya dengan cinta, kasih sayang, penghormatan dan kepatuhan yang tulus sebagai suatu pengabdian dan melalui doa-doa yang dilangitkan! (WT, 15/6/2025).

292
Tags: ArtikelAtrilangKeibuanKisah Cinta IbuNaluri KeibuanWahyu Triono
Previous Post

KPKU MOBILE Resmi Diluncurkan Permudah Layanan Koperasi

Next Post

Polemik 4 Pulau: Sumut Bertahan, Aceh Menentang, Prabowo Ambil Alih!

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
Presiden Prabowo akan Naikkan Gaji Hakim: Demi Kesejahteraan Para Hakim!

Polemik 4 Pulau: Sumut Bertahan, Aceh Menentang, Prabowo Ambil Alih!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SMA Negeri 1 NA IX-X Dirgahayu Republik Indonesia

PERUMDA TIRTA BHAGASASI

PERUMDA TIRTA BHAGASASI
UCAPAN HUT RI DAN HUT KABUPATEN BEKASI
Keluarga Besar Perumda Tirta Patriot

Iklan Ucapan Selamat

Kepala Disdik Kabupaten Labuhanbatu

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.