Korannusantara.id – Perkembangan dunia ilmiah di Indonesia beberapa tahun belakangan ini masih banyak diterpa oleh isu –bahkan suatu kenyataan– tentang adanya plagiarism –suatu tindakan mengambil karya (ide, kata-kata, atau karya tulis) orang lain dan mengklaimnya sebagai karya sendiri tanpa memberikan kredit atau pengakuan yang layak. Dalam dunia akademik, plagiarism dianggap sebagai tindakan yang serius dan dapat berdampak pada reputasi dan kesuksesan seseorang.
Mengapa plagiarism itu masih saja terjadi? Padahal saat ini penulisan, lebih khusus penulisan ilmiah, sangat dipermudah dan terbantu dengan adanya kemajuan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dan revolusi digital. Karenanya suatu quote, “Di tengah gulita informasi, cahaya ilmu tak pernah sendiri –ia ditemani algoritma yang setia menyusuri lorong-lorong data” menjadi penjelasan awal dari tulisan ini.
AI Dalam Penulisan Ilmiah
Banyak sekali Artificial Intelligence (AI) dan berbagai aplikasi yang dapat digunakan untuk membantu para penulis/peneliti dalam melakukan penulisan ilmiah. Diantaranya adalah ChatGPT yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, terutama untuk tugas-tugas yang melibatkan pemrosesan bahasa alami. Ini termasuk membantu dalam penulisan konten, penerjemahan bahasa, menjawab pertanyaan, dan bahkan membantu dalam pembelajaran atau riset.
Dalam hal seorang penulis/peneliti ingin mencari, memanen, dan menganalisis metadata bibliografi dari berbagai database jurnal online, seperti Google Scholar, Scopus, CrossRef, dan PubMed. Aplikasi ini membantu peneliti dan penulis ilmiah dalam berbagai aspek penulisan ilmiah, termasuk mencari referensi, menganalisis kinerja penelitian, dan mengidentifikasi topik penelitian yang relevan dapat menggunakan perangkat lunak gratis Publish or Perish (PoP).
Setelah data base jurnal online telah didapatkan melalui bantuan perangkat lunak gratis Publish or Perish (PoP), maka penulis/peneliti dapat menggunakan VOSviewer, yang merupakan perangkat lunak yang berguna untuk melakukan analisis bibliometrik dan memvisualisasikan jaringan literatur.
Kegunaan utama VOSviewer adalah untuk membantu peneliti dalam memahami dan menganalisis pola-pola penting dalam jaringan literatur, seperti kluster topik, hubungan antara kata kunci, dan jaringan kolaborasi. Melalui hasil analisis perangkat lunak VOSviewer maka penulis/peneliti dapat menentukan focus dari penelitian yang akan diteliti.
Kemudian penulis/peneliti dapat menggunakan Mendeley, yaitu suatu aplikasi manajemen referensi yang banyak digunakan oleh peneliti, mahasiswa, dan akademisi untuk mengelola, membagikan, dan menyitasi referensi secara otomatis. Aplikasi ini memudahkan pengelolaan berbagai jenis referensi seperti artikel, buku, dan jurnal, serta mendukung kolaborasi dalam penulisan ilmiah.
Hal terpenting bagi penulis/peneliti setelah menyelesaikan tulisan atau menyelesaikan penulisan penelitiannya maka harus dilakukan pengecekan tingkat plagiarism dengan menggunakan Plagiarism Checker X yang berfungsi sebagai alat untuk mengecek kesamaan tulisan dengan sumber lain di internet, memastikan keaslian karya tulis. Alat ini membantu pengguna, terutama mahasiswa, dosen, dan peneliti, untuk mendeteksi plagiarisme dengan membandingkan konten yang dibuat dengan sumber online, termasuk website, buku, dan artikel.
Penggunaan seluruh perangkat lunak AI dalam penulisan ilmiah oleh penulis/peneliti, diantaranya ChatGPT, Publish or Perish (PoP), VOSviewer, Mendeley, dan Plagiarism Checker X, akan mempermudah dan membantu penulis untuk menghindari Plagiarism sepanjang penulis/peneliti masih menggunakan pagar-pagar etika.
Etika Penggunaan AI
Dalam semesta ilmu pengetahuan, penulisan ilmiah merupakan jembatan kokoh antara ide dan bukti, antara imajinasi dan fakta. Kini, jembatan itu tak lagi dibangun hanya dengan pikiran manusia. Di era revolusi digital ini, AI hadir sebagai rekan seperjalanan yang tak mengenal lelah, membantu penulis/peneliti menyusun kata, menelaah literatur, bahkan merangkai argumen.
AI bukan hanya alat, ia adalah pena yang tak kering, mata yang tak lelah membaca, dan memori yang tak pernah lupa. Transformasi penulisan ilmiah dahulu, peneliti harus menghabiskan berjam-jam di perpustakaan, menelusuri literatur, menyusun bibliografi dengan cermat, dan mengecek ulang setiap kalimat. Kini, dengan AI, proses itu menjadi lebih cepat, lebih akurat, dan lebih efisien.
Beberapa manfaat utama AI dalam penulisan ilmiah antara lain: Pertama, pencarian literatur otomatis. Algoritma dapat menelusuri ribuan jurnal hanya dalam hitungan detik. Kedua, pemeriksaan tata bahasa dan gaya bahasa akademik. AI mampu menyesuaikan tulisan agar sesuai dengan standar penulisan ilmiah. Ketiga, generasi konten awal. Peneliti dapat membuat draft awal berdasarkan input data dan ide penelitian. Keempat, analisis sentimen dan argumentasi. AI dapat membantu mengenali bias atau kelemahan logika dalam argumen.
Peran AI sebagai kolaborator, bukan pencipta meski AI mampu melakukan banyak hal, ia bukanlah pengganti penulis/peneliti. Etika tetap menjadi pilar utama dalam dunia akademik. AI harus dilihat sebagai kolaborator cerdas, bukan pengganti kreator. Penulis/peneliti tetap memegang peranan penting dalam menentukan topik dan rumusan masalah, menafsirkan hasil temuan dan menyusun diskusi dan kesimpulan berdasarkan pemahaman kontekstual.
“AI bisa menulis ribuan kata, tapi hanya manusia yang bisa memberi makna.” Karenanya, penggunaan AI dalam penulisan ilmiah dihadapkan pada etika dan membawa tantangan besar. Pertama, plagiarisme tidak disengaja. AI dapat mengulang frasa populer dari literatur sebelumnya. Kedua, transparansi dan keaslian. Harus ada kejelasan dalam pelaporan bahwa AI digunakan dalam proses penulisan. Ketiga, ketergantungan berlebih. Terlalu mengandalkan AI dapat mengikis keterampilan berpikir kritis dan orisinalitas. Karenanya, dalam penggunaan AI dalam penulisan ilmiah tetap harus ada pagar-pagar etis yang kokoh.
Kesimpulan
AI bukan sekadar tren, ia adalah bagian dari masa depan. Dengan kemampuan seperti natural language generation, machine translation, dan semantic search, AI akan terus mengubah cara kita menulis dan berpikir tentang ilmu pengetahuan. Namun, di balik semua kecanggihan itu, tetaplah manusia sang penentu makna. Seperti pena yang digerakkan oleh tangan, AI hanya berfungsi sebaik niat dan integritas penulisnya.
Penulisan ilmiah bersama AI adalah simfoni antara logika dan teknologi, antara akal dan algoritma. Di dalamnya, manusia dan mesin berdansa dalam irama sains yang terus berkembang. “Di balik setiap paragraf yang tersusun rapi, ada pikiran manusia yang bernyanyi dan mesin yang menjaga harmoni.”
Penulisan Ilmiah Bersama AI dimaksudkan sebagai ajakan untuk menggunakan AI dengan bijak. Bukan untuk menggantikan, tetapi untuk memperkaya. Bukan untuk menghindar dari kerja keras, tetapi untuk melangkah lebih jauh dalam pencarian kebenaran ilmiah. [WT, 12/6/2025]
Ditulis Oleh Wahyu Triono KS, Penggiat Literasi, Akademisi dan Praktisi, Founder LEADER dan CIA Indonesia, dan Tenaga Ahli Dekonsentrasi Tugas Pembantuan dan Kerja Sama, Direktorat Jenderal Bina Adminsitrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri RI.



