• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Artikel

Dari Perbatasan Menuju Jakarta, Perjalanan Aprianti Menjemput Mimpi untuk Natuna

Redaksi by Redaksi
19 September 2026
in Artikel, Daerah, Nasional, Opini, Pendidikan
0
Dari Perbatasan Menuju Jakarta, Perjalanan Aprianti Menjemput Mimpi untuk Natuna

Ket: Aprianti, Mahasiswi Universitas Paramadina asal Natuna, Kepulauan Riau.

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KoranNusantara.id,Jakarta- Natuna adalah salah satu wajah Indonesia yang menghadap langsung ke kawasan perairan strategis di utara negeri.

Dari wilayah ini, laut terbentang luas hingga menjadi jalur perlintasan kapal-kapal dari berbagai negara.

Posisinya yang berada di kawasan strategis, membuat Natuna sejak lama memiliki arti penting dalam jalur perdagangan dan hubungan antarnegara.

Kapal-kapal dari Asia Timur seperti Cina, Jepang, Korea dan Taiwan, maupun negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja, Brunei dan Filipina, melintasi kawasan ini.

Bahkan, aktivitas pelayaran dari kawasan Asia Selatan, Asia Barat, Eropa hingga Amerika Serikat turut menjadikan perairan di sekitar Natuna sebagai bagian dari jalur perlintasan yang penting.

Di atas peta, Natuna mungkin terlihat sebagai wilayah yang jauh dari pusat Indonesia. Tetapi bagi negara, wilayah ini justru berada di salah satu beranda terdepan.

Di tempat inilah seorang perempuan muda bernama Aprianti lahir dan tumbuh besar. Ia berasal dari Desa Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna. Sejak kecil, laut dan kehidupan masyarakat perbatasan telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Setiap kapal yang melintas di lautan luas bukan hanya menjadi pemandangan biasa. Bagi Aprianti, itu adalah pengingat bahwa tempat ia tumbuh merupakan bagian penting dari Indonesia.

Namun, tumbuh di wilayah yang strategis juga membuatnya melihat kenyataan lain. Menjadi wilayah terdepan tidak selalu berarti menjadi wilayah yang paling diperhatikan.

Keterbatasan pembangunan, khususnya dalam bidang pendidikan, menjadi salah satu kenyataan yang ia saksikan sejak dini. Fasilitas belajar yang terbatas, sumber daya manusia yang belum merata, serta kesempatan untuk mengembangkan diri yang tidak selalu sama dengan daerah perkotaan membuatnya melihat persoalan pendidikan dari dekat.

Ia melihat anak-anak di sekitarnya memiliki potensi besar, tetapi tidak selalu memiliki ruang dan dukungan yang cukup untuk berkembang.

Dari sanalah perlahan tumbuh kesadaran dalam dirinya bahwa pendidikan bukan sekadar proses akademik. Pendidikan dapat menjadi alat perjuangan sosial dan jalan untuk membuka kesempatan bagi generasi berikutnya.

Belajar dari Keluarga Sederhana

Perempuan yang akrab disapa Apri ini, dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai petani sekaligus kuli bangunan, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang mengelola kehidupan keluarga dengan penuh ketekunan.

Sejak kecil, ia terbiasa melihat ayahnya bekerja di bawah terik matahari dan ibunya mengatur kebutuhan rumah tangga dengan penuh perhitungan.

Kehidupan tersebut memang tidak memberinya kemewahan. Namun, dari sanalah ia mendapatkan pelajaran yang kemudian menjadi bagian penting dari karakternya: daya tahan, kerja keras, dan kejujuran.

Orang tuanya mengajarkan bahwa harga diri tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang menjalani dan mempertanggungjawabkan hidupnya. Nilai tersebut kemudian tertanam kuat dalam diri Aprianti.

Ia memahami bahwa keberhasilan bukan semata-mata persoalan keberuntungan. Ada konsistensi, kerja keras, dan keberanian untuk terus mencoba meskipun keadaan tidak selalu berpihak.

Kesadaran terhadap keterbatasan juga membuatnya terbiasa bersikap rendah hati, terbuka terhadap evaluasi, dan berusaha mencari solusi ketika menghadapi kekurangan.

Mimpi Kuliah di Tengah Keterbatasan

Setelah lulus SMA, Aprianti memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Namun, kondisi ekonomi keluarga membuat keinginan tersebut tidak mudah diwujudkan. Keraguan sempat muncul. Haruskah ia menunda mimpi tersebut?

Ia memilih untuk tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti. Aprianti mulai mencari peluang, berkonsultasi dengan guru, dan memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia.

Hingga akhirnya ia diterima sebagai mahasiswa undangan di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna dengan pembebasan biaya pembangunan.

Bagi Aprianti, kesempatan tersebut bukan sekadar jalan untuk masuk perguruan tinggi. Ia melihatnya sebagai bukti bahwa usaha dan doa dapat membuka jalan yang sebelumnya terlihat sulit.

Tetapi perjuangannya belum selesai, untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus biaya kuliah, ia bekerja sambil belajar dan tinggal di rumah orang lain.

Hari-harinya diisi dengan membagi waktu antara pekerjaan dan perkuliahan. Tidak jarang ia mengalami kelelahan, baik secara fisik maupun emosional.

Namun, fase tersebut justru menjadi salah satu periode yang paling membentuk mentalnya. Ia belajar bahwa ketahanan bukanlah kemampuan untuk tidak pernah merasa lelah.

Ketahanan adalah kemampuan untuk tetap melangkah meskipun sedang lelah. Pengalaman hidup mandiri itu kemudian membentuk Aprianti menjadi pribadi yang lebih adaptif, bertanggung jawab, dan terbiasa menghadapi tekanan.

Ia semakin memahami bahwa kehidupan tidak selalu memberikan kondisi ideal. Tetapi dalam kondisi apa pun, seseorang tetap memiliki pilihan untuk menentukan bagaimana ia akan bersikap.

Tidak Ingin Menjadi Mahasiswa “Kupu-Kupu”

Selama menempuh studi S1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Aprianti tidak ingin hanya menjadi mahasiswa yang sekedar datang ke kampus, mengikuti perkuliahan, kemudian pulang atau lebih dikenal dengan istilah mahasiswa “Kupu-Kupu”.

Semangat pendidikan yang tinggi, mendorong Aprianti ingin terlibat lebih jauh dalam dunia mudanya. Ia aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan diinternal kampus maupun dieksternal kampus seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang natuna.

Pada tahun 2021, Aprianti mengemban amanah menjadi Wakil Presiden Mahasiswa (Presma) STAI Natuna. Pada 2022, ia kemudian dipercaya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Presiden Mahasiswa DEMA STAI Natuna.

Peran tersebut mempertemukannya dengan berbagai dinamika kepemimpinan. Ada perbedaan sudut pandang, kepentingan, keterbatasan anggaran, hingga konflik internal maupun eksternal.

Ia juga pernah berada dalam situasi ketika keputusan yang diambilnya menimbulkan pro dan kontra. Kritik datang, bahkan ada yang meragukan keputusan yang dibuatnya. Pada awalnya, kritik tersebut terasa berat.

Namun, Aprianti memilih untuk tidak mempertahankan ego. Ia belajar mendengarkan secara aktif, melihat persoalan secara objektif, merefleksikan kesalahan, kemudian memperbaikinya melalui komunikasi atau dalam istilah sederhananya, dengan duduk bersama dan ngobrol.

Dari pengalaman itu, ia memahami bahwa kepemimpinan bukan tentang selalu benar. Kepemimpinan adalah tentang kesediaan untuk mendengar, belajar, memperbaiki diri, dan terus bertumbuh.

HMI dan Cara Pandang yang Semakin Luas

Proses kaderisasi di HMI kemudian semakin mengasah ketangguhan dan kedewasaan berpikir Aprianti. Hingga akhirnya ia dipercaya menjadi Ketua Umum HMI Cabang Natuna periode 2024-2025.

Di organisasi tersebut, cara pandangnya terhadap persoalan daerah semakin berkembang. Ia mulai melihat bahwa pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Pendidikan berkaitan dengan ekonomi, budaya, lingkungan sosial, hingga kebijakan publik.

Melalui forum diskusi kebangsaan dan advokasi pendidikan yang diikutinya, Aprianti semakin memahami bahwa perubahan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Persoalan masyarakat tidak selalu dapat diselesaikan oleh satu orang, satu organisasi, atau satu institusi. Diperlukan banyak pihak yang mau bekerja bersama.

Menulis untuk Menceritakan Perbatasan dari Dalam

Di bidang akademik, Aprianti juga terus berusaha meningkatkan kapasitas dirinya. Ia mengikuti Program Inkubator Literasi Pustaka Nasional dan menerima penghargaan nasional. Ia juga menulis buku bertema maritim dan kebangsaan sebagai refleksi atas identitas wilayah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

Baginya, literasi bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis. Ada persoalan yang lebih besar di baliknya. Wilayah perbatasan selama ini sering dibicarakan dari perspektif geopolitik, pertahanan, keamanan, dan kepentingan negara. Semua itu penting. Tetapi di balik istilah-istilah tersebut ada masyarakat yang menjalani kehidupan sehari-hari.

Ada anak-anak yang tumbuh di sana. Ada keluarga yang bekerja dan bertahan dengan keterbatasan. Ada anak muda yang memiliki mimpi tetapi harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan kesempatan.

Karena itu, Aprianti melihat pentingnya membangun narasi perbatasan dari orang-orang yang hidup di dalamnya. Menurutnya, masyarakat perbatasan tidak seharusnya hanya menjadi objek cerita. Mereka juga harus memiliki kesempatan untuk menceritakan daerahnya sendiri.

Menata Langkah dalam Kegagalan

Perjalanan Aprianti juga tidak sepenuhnya berisi keberhasilan. Ada masa ketika aktivitas organisasi membuat manajemen waktunya kurang optimal. Fokusnya terbagi dan capaian akademiknya sempat tidak maksimal.

Namun, pengalaman tersebut justru menjadi titik refleksi penting. Ia mulai menyusun ulang prioritas, memperbaiki strategi belajar, dan belajar menyeimbangkan idealisme organisasi dengan tanggung jawab akademik.

Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti. Sebaliknya, pengalaman itu membuatnya lebih terstruktur dan disiplin. Baginya, kegagalan bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses untuk mengenali kekurangan dan memperbaikinya.

Keinginan Aprianti untuk melanjutkan studi magister di Program Studi Psikologi Pendidikan Universitas Paramadina Jakarta lahir dari kegelisahan yang telah tumbuh sejak lama.

Ia melihat bahwa membangun pendidikan tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas atau membuka akses sekolah, karena dalam sistem pendidikan, ada manusia yang berpesan di dalamnya.

Ada anak-anak dengan kondisi psikologis, lingkungan keluarga, pengalaman sosial, dan karakter yang berbeda-beda. Terutama bagi anak-anak yang tumbuh di wilayah perbatasan, pendidikan harus mampu membangun keyakinan bahwa mereka juga memiliki masa depan yang luas.

Menurutnya, semangat saja tidak cukup. Mereka membutuhkan pengetahuan, dukungan, lingkungan yang baik, dan kesempatan untuk berkembang. Karena itulah Aprianti memilih Psikologi Pendidikan.

Ia ingin memahami lebih dalam bagaimana pendidikan dapat berperan dalam perkembangan individu, khususnya anak-anak dan generasi muda yang tumbuh dalam kondisi yang tidak selalu ideal.

Melanjutkan Studi sebagai bagian dari Pengabdian

Bagi Aprianti, melanjutkan studi magister bukan sekadar langkah akademik. Ia melihatnya sebagai bagian dari perjalanan pengabdian. Pengalaman hidup dalam keterbatasan, bekerja sambil kuliah, memimpin organisasi, menghadapi tekanan akademik, serta menjalankan tanggung jawab sosial telah membentuk kesiapan mentalnya untuk melanjutkan pendidikan.

Ia memahami bahwa studi magister membutuhkan konsistensi, kedisiplinan, ketekunan, dan kemampuan melakukan riset. Tantangan akademik tidak ia lihat semata-mata sebagai beban, tetapi sebagai ruang untuk mengembangkan dan membuktikan kapasitas diri.

Karena itu, ia telah memantapkan pilihan untuk melanjutkan pendidikan magister di Universitas Paramadina pada Program Studi Psikologi Pendidikan. Namun, ada tujuan yang lebih jauh dari sekadar menyelesaikan studi.

Aprianti ingin kembali ke Natuna bukan hanya sebagai seseorang yang membawa gelar magister, tetapi sebagai seseorang yang membawa ilmu dan pengalaman untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan daerahnya.

Perempuan Penguat Fondasi Perbatasan

Sebagai putri yang lahir dan tumbuh di perbatasan, Aprianti memahami bahwa identitas tersebut bukan sekadar akibat dari kondisi geografis tempat ia dilahirkan. Baginya, ada tanggung jawab yang menyertainya.

Pendidikan telah membuka jalan bagi dirinya untuk bermimpi melampaui batas-batas desa tempat ia dilahirkan. Kini, melalui pendidikan pula, ia ingin memastikan generasi berikutnya memiliki peluang yang lebih besar. Ia meyakini bahwa pembangunan wilayah perbatasan tidak hanya bertumpu pada pertahanan dan ekonomi.

Ada satu hal yang tidak kalah penting: penguatan sumber daya manusia. Karena wilayah yang kuat tidak hanya membutuhkan infrastruktur yang kokoh dan sistem pertahanan yang kuat. Ia juga membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, integritas, dan kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri.

Itulah alasan Aprianti ingin menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Ia ingin menjadi penguat perbatasan melalui ilmu, karakter, integritas, dan pengabdian nyata bagi Indonesia.

Bagi Aprianti, perbatasan bukanlah garis terluar yang terpinggirkan. Perbatasan adalah beranda terdepan yang memperlihatkan wajah Indonesia. Dan Natuna, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, bukan sekadar wilayah strategis di peta geopolitik.

Natuna adalah rumah yang memberinya pelajaran tentang keterbatasan, kerja keras, pendidikan, kepemimpinan, dan mimpi. Dari rumah itulah ia berangkat mengejar pendidikan yang kelak, ia ingin kembali membawa ilmu yang diperolehnya untuk membantu membuka lebih banyak kesempatan bagi anak-anak di tanah kelahirannya.

Bagi Aprianti, menguatkan perbatasan pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga garis terluar Indonesia, tetapi juga memastikan orang-orang yang hidup di sana memiliki kesempatan yang layak untuk tumbuh, bermimpi, dan membangun masa depannya sendiri.(*)

RED

Views: 454
Tags: Aprianti Aktivis Perempuan NatunaAprianti Mahasiswi Paramadina dari NatunaHMI Cabang NatunaPerbatasan NatunaUniversitas Paramadina
Previous Post

Besok Pilkades Serentak, TNI-Polri Siapkan Pengamanan di 154 Desa Bekasi

Next Post

Mubes VI Pujakesuma Eko Supianto Kembali Pimpin DPP Periode 2026–2031

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
Mubes VI Pujakesuma Eko Supianto Kembali Pimpin DPP Periode 2026–2031

Mubes VI Pujakesuma Eko Supianto Kembali Pimpin DPP Periode 2026–2031

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.