Korannusantara.id – Jakarta, 7 September 2026, Ketua Umum PNPI, Syamsul Rizal, menilai kehadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagai tamu kehormatan utama dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia, menjadi penegasan kuat atas posisi Indonesia dalam percaturan global. Menurutnya, undangan khusus Presiden Rusia Vladimir Putin kepada Presiden Prabowo menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar dipandang sebagai kekuatan regional, tetapi sebagai negara strategis yang diperhitungkan dalam membentuk arah kerja sama ekonomi dan geopolitik dunia.
“Kehadiran Presiden Prabowo di EEF ke-11 menunjukkan kelas Indonesia. Kita hadir dengan kepala tegak, membawa kepentingan nasional, dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar dunia. Ini adalah diplomasi yang mencerminkan kehormatan sekaligus kedaulatan Indonesia,” tegas Syamsul Rizal. Ia memandang momentum Vladivostok sebagai pesan bahwa politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif tetap memiliki relevansi kuat di tengah perubahan konstelasi kekuatan global.
Pertemuan bilateral Presiden Prabowo dengan Presiden Putin di sela EEF semakin mempertegas bobot hubungan Jakarta–Moskow. Bagi Syamsul Rizal, komunikasi langsung kedua kepala negara bukan hanya seremoni diplomatik, melainkan ruang strategis untuk memperluas kepentingan Indonesia di sektor perdagangan, investasi, energi, pangan, teknologi, konektivitas, hingga penguatan kerja sama ekonomi jangka panjang. Indonesia, menurutnya, harus mampu mengubah penghormatan diplomatik di panggung internasional menjadi peluang konkret yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Syamsul Rizal juga menilai kepemimpinan Presiden Prabowo sedang membawa pesan penting bahwa Indonesia tidak boleh menjadi penonton dalam perubahan tatanan dunia. Di tengah rivalitas kekuatan besar, Indonesia harus tetap independen, berdaulat, dan mampu membangun hubungan produktif dengan berbagai negara tanpa kehilangan kepentingan nasional. “Indonesia terlalu besar untuk sekadar menjadi objek kepentingan global. Kita harus menjadi salah satu kekuatan yang ikut menentukan arah kerja sama dunia, dan diplomasi Presiden Prabowo menunjukkan keberanian menuju posisi tersebut,” ujarnya.
Menurut Syamsul Rizal, kehadiran Indonesia di Vladivostok pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang hubungan Prabowo–Putin atau Indonesia–Rusia, tetapi tentang martabat Indonesia di panggung dunia. “Ketika Presiden Republik Indonesia duduk sejajar, berbicara langsung dan dihormati oleh para pemimpin kekuatan dunia, yang sedang dibawa adalah Merah Putih dan kehormatan lebih dari 280 juta rakyat Indonesia. EEF ke-11 memberi satu pesan kuat: Indonesia datang bukan sebagai pelengkap panggung dunia, tetapi sebagai bangsa besar yang siap ikut menentukan masa depan dunia,” pungkas Ketua Umum PNPI tersebut.



