• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Daerah

Tradisi Berebut Telur dan Uang Warnai Maulid Nabi di Pejagalan

Sap70 Sap70 by Sap70 Sap70
6 September 2026
in Daerah
0
Tradisi Berebut Telur dan Uang Warnai Maulid Nabi di Pejagalan
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Musholla Al-Ikhlas, Pejagalan, Jakarta Utara, berlangsung meriah, Sabtu (5/9/2026).

Kegiatan tersebut memadukan rangkaian keagamaan dengan tradisi masyarakat yang telah diwariskan dari tanah kelahiran.

Selain lantunan shalawat, pembacaan Maulid Nabi, dan tausiah, warga juga menggelar tradisi berebut telur hias serta uang.

Telur dan uang tersebut dipasang pada sejumlah pohon dekorasi yang telah disiapkan panitia.

Usai rangkaian keagamaan selesai, suasana khidmat berubah menjadi riuh. Anak-anak dan warga langsung mendekati pohon-pohon hias tersebut.

Mereka berebut telur hias dan uang yang tergantung di antara dekorasi. Tawa serta sorak warga pun pecah memenuhi lingkungan permukiman.

Tradisi tersebut menjadi salah satu daya tarik dalam peringatan Maulid Nabi di lingkungan RT 06/RW 016, Pejagalan.

Tradisi Jadi Perekat Warga

Tokoh masyarakat sekaligus pengurus organisasi masyarakat Laskar Merah Putih, Jamaluddin atau Daeng Jamal, menyebut kegiatan tersebut memiliki keunikan tersendiri.

“Yang pasti, ini kegiatan peringatan Maulid Nabi yang sangat unik. Acara maulid ini dihiasi dengan berbagai macam kolaborasi,” ujar Daeng Jamal.

Menurut dia, tradisi Mandar dari Sulawesi Barat cukup dominan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Namun, warga dari berbagai latar belakang turut terlibat dalam peringatan Maulid Nabi itu.

“Ada Jawa, Sunda, Sumatera, dan lainnya. Kolaborasi ini menjadi unik dan lain daripada yang lain,” katanya.

Daeng Jamal menilai keberagaman tersebut justru memperlihatkan kuatnya kebersamaan masyarakat.

Menurutnya, perbedaan suku dan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk membangun persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat Jakarta.

“Saya rasa kegiatan maulid ini bukan hanya sekadar memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW, tetapi membangkitkan kembali semangat yang bisa mempererat persaudaraan dan rasa persatuan kita sesama anak bangsa,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan adat dan tradisi meski telah lama hidup di tanah rantau.

“Sehebat apa pun kita di tanah rantau, sesukses apa pun kita di tanah rantau, tetap ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yaitu adat istiadat dan tradisi di tanah kelahiran kita,” ujarnya.

Menurut Daeng Jamal, tradisi tersebut sekaligus menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya kepada generasi muda.

Gotong Royong Warga

Kemeriahan Maulid Nabi di Musholla Al-Ikhlas tidak terlepas dari keterlibatan masyarakat.

Daeng Jamal mengapresiasi gotong royong warga dalam mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.

“Saya lihat luar biasa. Mereka berurunan, berpatungan. Bukan soal finansial saja yang mereka korbankan, tetapi juga tenaga, pikiran, dan waktu,” katanya.

Ia menilai semangat tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi di tengah masyarakat yang semakin beragam.

Sementara itu, sebelum tradisi berebut telur dan uang berlangsung, jamaah mengikuti tausiah yang disampaikan Ustaz Aris Kurniawan Al-Ghifari.

Ustaz Aris mengajak jamaah menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menekankan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW tanpa menganggap kehidupan Nabi terlalu jauh untuk diterapkan.

“Jangan pernah takut untuk mencontoh Nabi. Ambillah akhlakul karimah Nabi,” ujar Ustaz Aris.

Dalam ceramahnya, Ustaz Aris juga menggambarkan Rasulullah SAW sebagai sosok yang memiliki berbagai peran dalam kehidupan.

“Rasulullah itu orangnya diplomatis. Beliau juga pedagang dan beliau juga memimpin perang. Jadi jangan pernah takut kalau diri kita ingin mencontoh Nabi,” katanya.

Ceramah berlangsung interaktif ketika Ustaz Aris melibatkan jamaah melalui sejumlah pertanyaan.

Pertanyaan tersebut antara lain membahas kehidupan Rasulullah SAW bersama Aisyah RA. Interaksi itu membuat suasana ceramah berlangsung cair dan diselingi tawa jamaah.

Panitia juga memberikan hadiah kepada jamaah yang mampu menjawab pertanyaan.

Berebut Telur Jadi Momen Paling Meriah

Setelah seluruh rangkaian acara utama selesai, perhatian warga beralih ke pohon-pohon dekorasi.

Telur hias dan sejumlah uang yang dipasang pada dekorasi menjadi sasaran warga. Anak-anak terlihat paling antusias mengikuti tradisi tersebut.

Daeng Jamal menyebut perebutan telur selalu menjadi momen yang ditunggu dalam peringatan Maulid Nabi.

“Yang menjadi akhir dari cerita dan keunikan acara maulid ini adalah sesuatu yang selalu ditunggu-tunggu, yaitu perebutan telur,” katanya.

Tradisi tersebut juga membangkitkan kenangan masa kecil Daeng Jamal ketika masih berada di kampung halaman.

“Saya juga pernah merasakan ketika masih kecil, berebut telur, cucur, ketupat, dan lain sebagainya,” kenangnya.

Selain telur, sejumlah uang dengan nominal beragam turut dipasang pada dekorasi.

Meski menjadi bagian dari perebutan, nilai uang tersebut bukan tujuan utama warga. Kehadirannya justru menambah kemeriahan tradisi.

Daeng Jamal bersyukur tradisi tersebut berlangsung aman dan terkendali.

“Walaupun terkadang agak sedikit mengerikan karena ada bambu-bambunya, alhamdulillah di sini aman dan masih bisa terkendali,” ujarnya.

Peringatan Maulid Nabi di Musholla Al-Ikhlas akhirnya ditutup dengan suasana penuh kegembiraan.

Di tengah keberagaman warga Pejagalan, tradisi tersebut menjadi ruang untuk berkumpul sekaligus menjaga hubungan sosial antarmasyarakat.

Peringatan Maulid Nabi pun tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga menjadi ruang bagi warga untuk merawat warisan budaya dan memperkuat persaudaraan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua RT 06 Amsar, Muhammad Sanika atau Abang Akom, serta sejumlah tokoh masyarakat setempat. (Red)

Views: 51
Previous Post

Tangani 169 Laporan Polisi, Polri Tetapkan 113 Tersangka Kasus Karhutla

Next Post

Brimob Polda Metro Jaya Amankan 5 Pemuda dan 3 Sajam Diduga Hendak Tawuran di Jaktim

Sap70 Sap70

Sap70 Sap70

Next Post
Brimob Polda Metro Jaya Amankan 5 Pemuda dan 3 Sajam Diduga Hendak Tawuran di Jaktim

Brimob Polda Metro Jaya Amankan 5 Pemuda dan 3 Sajam Diduga Hendak Tawuran di Jaktim

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.