MERAUKE, PAPUA SELATAN — Masyarakat Kampung Tambat, kawasan Salor, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, mulai membuka peluang baru dalam pengembangan sagu.
Komoditas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi rangkaian usaha, mulai dari pangan olahan hingga perikanan dan pemanfaatan limbah.
Peluang itu dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) antara masyarakat Kampung Tambat dan Tim Ekspedisi Patriot IPB University. Forum tersebut digunakan untuk memetakan kondisi lapangan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi kampung.
Ketua Kampung Tambat, Samuel Haremba, berharap kehadiran Tim Ekspedisi Patriot IPB University dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam mengembangkan berbagai potensi yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan.
“Selama mereka di sini, mereka akan membantu kita,” kata Samuel dalam forum tersebut.
Pengolahan Masih Terbatas
Sagu telah lama dikenal masyarakat Kampung Tambat. Pengetahuan mengenai tanaman hingga proses pengolahan dasarnya diwariskan secara turun-temurun.
Namun, kemampuan untuk mengembangkan sagu menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi masih membutuhkan penguatan.
Mama Siti, salah seorang warga, mengatakan masyarakat sudah memahami sagu sebagai bagian dari kehidupan mereka, tetapi belum sepenuhnya menguasai pengolahan lanjutan.
“Kami sudah lama mengenal dan memahami pohon sagu, tetapi masih belum paham terkait pengolahan sagu,” ujarnya.
Saat ini, sekitar tujuh warga masih menjalankan aktivitas pengolahan sagu. Mereka menggunakan perpaduan metode tradisional dan mesin.
Penggunaan mesin parut mulai dilakukan sejak 2013. Enam tahun kemudian, masyarakat mulai menggunakan mesin dengan ukuran lebih besar untuk membantu meningkatkan efisiensi pekerjaan.
Hasil pengolahan berupa sagu basah kemudian dijual ke pasar, termasuk Pasar Wamanggu dan Ampera. Harga yang diterima masyarakat berkisar Rp200 ribu sampai Rp300 ribu per karung.
Meski demikian, kegiatan produksi belum berlangsung konsisten. Permintaan pasar yang berubah-ubah dan persoalan ketersediaan air membuat masyarakat harus menyesuaikan volume produksinya.
Air dan Pasar Masih Jadi Persoalan
Ketersediaan air menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan masyarakat. Ketika memasuki musim kemarau, proses pengolahan sagu menjadi pati mengalami hambatan karena sumber air semakin sulit diperoleh.
Persoalan tersebut juga mempengaruhi aktivitas budidaya ikan. Warga harus mengambil air dari lokasi yang relatif jauh apabila kolam tidak berada di sekitar kawasan rawa.
Di sisi lain, masyarakat telah mencoba mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi pendukung.
Tanaman seperti sawi dan ubi telah dibudidayakan untuk konsumsi sekaligus dijual. Budidaya ikan lele juga mulai dikembangkan, meskipun masih menghadapi persoalan biaya pakan dan pasokan air.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi Kampung Tambat tidak harus bergantung pada satu jenis komoditas.
Produk Olahan Mulai Bermunculan
Salah satu peluang yang mulai dikembangkan masyarakat adalah diversifikasi produk berbahan sagu.
Sejumlah produk telah dicoba, antara lain sagu keju, sagu gulung dan pentol bakso dengan bahan tepung sagu.
Inovasi tersebut menunjukkan adanya peluang untuk meningkatkan nilai jual sagu. Namun, keterbatasan alat produksi dan belum luasnya jaringan pemasaran membuat produk olahan tersebut masih membutuhkan pendampingan.
Tidak hanya produk pangan, limbah dari pengolahan sagu juga memiliki peluang untuk dimanfaatkan.
Ampas sagu yang dihasilkan dalam jumlah cukup banyak berpotensi dikembangkan sebagai media budidaya jamur maupun bahan pakan ternak. Untuk merealisasikan peluang tersebut, masyarakat masih membutuhkan pengetahuan teknis dan teknologi yang sesuai.
Masyarakat Butuh Dukungan Konkret
Dalam forum tersebut, masyarakat menyampaikan sejumlah kebutuhan yang dianggap penting untuk memperkuat aktivitas ekonomi mereka.
Dukungan yang dibutuhkan antara lain peralatan pengolahan sagu, pompa air dan selang, bibit tanaman, pengembangan budidaya lele serta akses pemasaran.
Kepastian pasar menjadi salah satu hal yang dinilai penting. Produksi yang meningkat tanpa dukungan pasar berpotensi tidak memberikan dampak ekonomi yang optimal bagi masyarakat.
Karena itu, pengembangan sagu perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan sekadar meningkatkan produksi pati.
Rantai usaha dapat dibangun mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, pengembangan produk turunan, pemanfaatan limbah, penguatan sektor pertanian dan perikanan, hingga distribusi serta pemasaran.
Pendekatan tersebut dapat menjadi dasar terbentuknya ekosistem bisnis berbasis potensi lokal.
FGD Kampung Tambat memperlihatkan bahwa modal awal sebenarnya sudah tersedia. Masyarakat memiliki pengetahuan lokal, sumber daya alam dan pengalaman dalam mengolah sagu.
Yang masih diperlukan adalah penguatan teknologi, sarana produksi, peningkatan keterampilan, pendampingan usaha dan akses pasar.
Jika berbagai unsur tersebut dapat terhubung, sagu berpeluang berkembang dari sekadar bahan pangan lokal menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat Kampung Tambat dan kawasan Salor.
Pengembangan berbasis potensi lokal tersebut sekaligus dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat Papua Selatan melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia di wilayahnya.



