Jakarta, 16 Juli 2026 – Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB PSTI) mempercepat regenerasi wasit melalui Pelatihan Wasit Sepak Takraw Nasional di Hotel Naraya, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
PB PSTI menggandeng Federasi Sepak Takraw Asia (ASTAF), Federasi Sepak Takraw Internasional (ISTAF), dan Universitas Negeri Jakarta untuk memperkuat kualitas perwasitan nasional.
Langkah tersebut menjadi strategi pembinaan jangka panjang guna menyiapkan wasit profesional yang mampu memenuhi standar kompetisi internasional.
Presiden ASTAF sekaligus Sekretaris Jenderal ISTAF, Datuk Abdul Halim Kader, membuka pelatihan secara resmi.
Presiden ISTAF Boonchai Lorhpipat menghadiri kegiatan bersama Ketua Umum PB PSTI Prof. Dr. H. Surianto A.M., S.Ag., M.M., serta pengurus PB PSTI dari berbagai provinsi.
PB PSTI memandang regenerasi sebagai kebutuhan mendesak karena kualitas perangkat pertandingan menentukan kredibilitas setiap kompetisi.
Organisasi juga ingin memastikan Indonesia memiliki wasit yang siap memimpin pertandingan nasional, regional, hingga tingkat dunia.
Dalam sambutannya, Datuk Abdul Halim Kader menegaskan wasit memegang peran penting menjaga keadilan, sportivitas, dan kualitas pertandingan.
Menurutnya, keputusan seorang wasit tidak hanya memengaruhi jalannya pertandingan, tetapi juga menentukan kepercayaan atlet, pelatih, dan masyarakat.
Ia menilai Indonesia memiliki sejarah panjang dalam olahraga sepak takraw sehingga harus melahirkan lebih banyak wasit bertaraf internasional.
Datuk Abdul Halim juga mengapresiasi kerja sama PB PSTI dengan Universitas Negeri Jakarta dalam menyelenggarakan pelatihan tersebut.
Kolaborasi itu, menurutnya, memperkuat proses pembinaan sekaligus mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia perwasitan Indonesia.
“Indonesia juga harus memiliki wasit yang go internasional, khususnya dalam olahraga sepak takraw,” tegas Datuk Abdul Halim Kader.
Ia berharap seluruh peserta menguasai pembaruan regulasi internasional, menjaga integritas, serta mampu mengambil keputusan secara objektif pada setiap pertandingan.
Selama pelatihan, peserta mempelajari teknik perwasitan, pembaruan peraturan, etika profesi, kepemimpinan, dan simulasi penerapan regulasi internasional.
Dengan bekal tersebut, PB PSTI menargetkan peningkatan kualitas perangkat pertandingan secara merata di seluruh Indonesia.
Regenerasi Menjadi Prioritas Organisasi
Ketua Umum PB PSTI Prof. Dr. H. Surianto menegaskan regenerasi wasit harus berjalan lebih cepat agar organisasi tidak mengalami kekurangan perangkat pertandingan.
Ia menjelaskan sebagian besar wasit senior telah melewati usia produktif sehingga organisasi membutuhkan kader baru yang kompeten.
Menurutnya, regenerasi menjadi syarat penting menjaga kesinambungan pembinaan sepak takraw Indonesia.
“Saya menyadari bahwa perlu adanya regenerasi dalam dunia wasit sepak takraw mengingat usia para wasit yang ada saat ini sudah melampaui batas usia dan batas kemampuannya,” ujar Surianto.
Selanjutnya, Surianto mengajak seluruh pengurus provinsi mengambil tanggung jawab dalam proses regenerasi tersebut.
Ia meminta setiap pengurus daerah mengirimkan sedikitnya satu calon wasit mengikuti pelatihan nasional.
“Saya juga berharap seluruh pengurus besar PSTI yang ada di seluruh provinsi dapat mengirimkan minimal satu kandidat untuk mengikuti pelatihan wasit sepak takraw ini,” katanya.
Menurut Surianto, keterlibatan seluruh daerah akan memperluas kesempatan lahirnya wasit muda yang berkualitas.
Selain itu, pemerataan pembinaan akan memperkuat sistem kompetisi nasional secara berkelanjutan.
PB PSTI optimistis regenerasi yang terencana mampu menjaga kualitas kepemimpinan pertandingan dalam setiap kejuaraan.
Kolaborasi Internasional Perkuat Kompetensi
Presiden ISTAF Boonchai Lorhpipat menilai kualitas wasit menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kredibilitas pertandingan.
Karena itu, ISTAF terus mendorong peningkatan kompetensi perangkat pertandingan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Pelatihan nasional tersebut diikuti 36 wasit Indonesia dari total 42 wasit aktif yang menjalani pembinaan PB PSTI.
Selain peserta Indonesia, enam wasit asal Malaysia turut mengikuti pelatihan sebagai bagian penguatan kerja sama kawasan Asia Tenggara.
Kehadiran peserta dari dua negara membuka ruang pertukaran pengalaman, penyamaan persepsi, dan pendalaman regulasi pertandingan internasional.
Dukungan langsung ASTAF dan ISTAF juga memperlihatkan kepercayaan terhadap komitmen PB PSTI membangun perwasitan yang profesional.
Melalui pelatihan tersebut, PB PSTI ingin mencetak wasit yang berintegritas, berwawasan global, serta mampu memimpin pertandingan secara konsisten.
Organisasi meyakini peningkatan kualitas wasit akan berdampak langsung terhadap mutu kompetisi dan pembinaan atlet nasional.
Pada akhirnya, PB PSTI berharap semakin banyak wasit Indonesia memperoleh kesempatan memimpin kejuaraan Asia maupun dunia sehingga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama sepak takraw internasional.



