• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Daerah

HIMAPALAS Jabodetabek Gelar Refleksi 19 Tahun Bersama Senior Adakan Diskusi Investasi Daerah

Redaksi by Redaksi
18 Juni 2026
in Daerah
0
HIMAPALAS Jabodetabek Gelar Refleksi 19 Tahun Bersama Senior Adakan Diskusi Investasi Daerah
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Korannusantara.id – Jakarta, Himpunan Mahasiswa Padang Lawas (HIMAPALAS) Jabodetabek menggelar diskusi bersama para senior dalam sebuah forum talk show yang mengangkat tema perkembangan investasi di Kabupaten Padang Lawas. Diskusi ini menjadi ruang refleksi terhadap perjalanan daerah yang telah memasuki usia ke-19 tahun, namun dinilai belum mampu menarik minat investor secara optimal.

 

Dalam forum tersebut, Bang Wildan menyampaikan pandangannya bahwa kondisi 19 tahun Padang Lawas masih berada dalam dilema. Ia menilai bahwa meskipun daerah ini memiliki potensi besar, terutama di sektor pertanian dan perdagangan, namun masih terdapat persoalan mendasar seperti regulasi yang belum kuat serta kurangnya transparansi hukum. Hal ini menurutnya menjadi faktor yang membuat investor belum sepenuhnya percaya untuk masuk ke daerah tersebut.

 

Sementara itu, Bang Safaruddin melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih analitis melalui “anatomi kegagalan”. Ia menjelaskan bahwa investor pada dasarnya hanya berorientasi pada keuntungan, sehingga penting bagi daerah untuk mampu mengidentifikasi sektor unggulan yang layak dikembangkan, seperti perkebunan atau pertanian. Namun demikian, ia menegaskan bahwa Padang Lawas belum bisa sepenuhnya dikatakan gagal, karena masih memiliki potensi besar. Tantangan utamanya justru terletak pada kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi masuknya investor, termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam.

 

Lebih lanjut, Bang Taris menguraikan secara komprehensif terkait hambatan minimnya investasi di Kabupaten Padang Lawas. Ia menegaskan bahwa meskipun daerah ini memiliki kekayaan alam, letak geografis yang strategis, serta lahan yang luas. Namun potensi tersebut belum dikemas dengan baik sehingga belum mampu menarik investor. Menurutnya, investor tidak datang semata karena potensi, tetapi karena adanya kepastian, kemudahan, dan minimnya risiko.

 

Dalam pemaparannya, Bang Taris merumuskan lima anatomi utama penyebab rendahnya investasi.

Pertama, keterbatasan infrastruktur yang berdampak pada tingginya biaya logistik.

Kedua, belum berkembangnya hilirisasi industri sehingga hasil alam hanya dijual dalam bentuk mentah dan nilai tambah justru dinikmati daerah lain.

Ketiga, belum tersedianya proyek investasi yang siap ditawarkan ( _investment ready project_ ).

Keempat, kualitas sumber daya manusia yang belum optimal.

Kelima, tingginya ketergantungan fiskal terhadap pemerintah pusat yang menunjukkan rendahnya kemandirian ekonomi daerah.

 

Ia juga menambahkan bahwa jika kondisi ini tidak segera dibenahi, maka akan muncul berbagai dampak negatif seperti meningkatnya pengangguran, stagnasi ekonomi, serta semakin banyaknya generasi muda yang memilih keluar daerah.

 

Dalam diskusi ini Bg Taris juga menyampaikan istilah lumrah yang beredar di masyarakat tetapi dimaknai dengan pemahaman yang salah, istilah “orang berilmu” seharusnya dimaknai sebagai individu yang mampu menciptakan nilai dan manfaat nyata bagi khalayak ramai. Sedangkan di masyarakat ini diartikan dipahami secara sempit atau yang berkaitan dengan ilmu mistis, ini menjadi tugas bersama untuk mengubahnya di masyarakat.

 

Pada akhirnya, seluruh pemateri sepakat bahwa permasalahan utama Kabupaten Padang Lawas bukan terletak pada kekurangan potensi, melainkan pada kesiapan sistem, strategi, dan eksekusi yang belum optimal. Sebagai solusi, para pemateri sepakat bahwa diperlukan langkah strategis, di antaranya perbaikan sistem investasi yang lebih transparan dan efisien, pembangunan industri berbasis hilirisasi serta penyusunan roadmap pembangunan jangka pendek dan panjang. Selain itu, perubahan pola pikir masyarakat juga menjadi hal penting. Oleh karena itu, fokus ke depan kita bukan lagi mempertanyakan mengapa investor tidak datang, melainkan apa yang harus dibenahi agar investor percaya untuk berinvestasi di Padang Lawas.

 

Melalui diskusi ini, HIMAPALAS Jabodetabek diharapkan mampu menjadi wadah lahirnya gagasan kritis dan solutif dari kalangan mahasiswa sebagai agen perubahan dalam mendorong pembangunan ekonomi daerah yang lebih progresif dan berdaya saing.

Views: 129
Tags: Himapalas JabodetabekInvestasiPadang LawasRefleksi 19 Tahun
Previous Post

Fajar Nugraha dan Oktavia Rahmadani Terpilih Pimpin BEM ITP2I Periode 2026/2027

Next Post

PB HMI Desak Polda Riau Tindak Tegas Penebangan Mangrove Ilegal di InHil

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
PB HMI Desak Polda Riau Tindak Tegas Penebangan Mangrove Ilegal di InHil

PB HMI Desak Polda Riau Tindak Tegas Penebangan Mangrove Ilegal di InHil

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.