Korannusantara.id – Labuhanbatu, Di tengah geliat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah inisiatif lokal mulai menunjukkan dampak konkret yang melampaui sekadar pemenuhan gizi. Yayasan Kumle Jaya Bermartabat, salah satu pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Labuhanbatu, perlahan menegaskan perannya sebagai motor penggerak perubahan di sektor pendidikan.
Masih dalam hitungan bulan sejak terlibat aktif, yayasan ini sudah menancapkan jejak melalui aksi-aksi nyata yang menyentuh kebutuhan dasar sekolah. Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 dimanfaatkan sebagai panggung untuk memperlihatkan komitmen tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan langkah terukur yang menyasar langsung persoalan di lapangan.
Di Kecamatan Panai Hulu, Siswa dan tenaga pendidik SDN-13 kini dapat menikmati fasilitas air bersih yang lebih layak sebuah kebutuhan mendasar yang selama ini kerap terabaikan. Sementara di Kecamatan Bilah Barat, wajah baru SDN-18 hadir lewat pengecatan ulang, menghadirkan suasana belajar yang lebih segar dan kondusif.
Tak berhenti pada pembenahan fisik, pendekatan humanis juga dihadirkan. Yayasan ini menggagas kegiatan mini soccer fun match bersama Badan Gizi Nasional (BGN), menciptakan ruang interaksi yang lebih cair dan membangun ekosistem kerja yang sehat serta kolaboratif.
Ketua Yayasan Kumle Jaya Bermartabat, Raja Gompulon Rambe, menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari inisiatif sosial yang berorientasi jangka panjang.
“Ini bukan sekadar bantuan sesaat. Kami ingin menghadirkan lingkungan belajar yang benar-benar layak, aman, dan mendukung proses pendidikan secara berkelanjutan,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Pendanaan program ini, lanjutnya, bersumber dari sebagian keuntungan pengelolaan SPPG sebuah skema yang secara tidak langsung mengembalikan manfaat program gizi ke sektor pendidikan. Dengan pola ini, yayasan berupaya menciptakan siklus kebermanfaatan yang berkelanjutan.
Lebih jauh, Raja Gompulon menekankan pentingnya kolaborasi jangka panjang dengan sekolah-sekolah penerima manfaat. Setiap intervensi akan disesuaikan dengan kebutuhan riil di masing-masing sekolah, sehingga bantuan yang diberikan tidak bersifat seragam, melainkan tepat sasaran.
“Semangatnya adalah gotong royong. Kami ingin mendorong kepedulian terhadap fasilitas pendidikan, karena dari situlah kualitas pembelajaran bertumbuh,” katanya.
Langkah yayasan ini juga sejalan dengan arahan Badan Gizi Nasional yang mendorong peningkatan fasilitas dasar di lingkungan sekolah sebagai bagian dari ekosistem pendukung program MBG.
Ke depan, Yayasan Kumle Jaya Bermartabat berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan program, khususnya di wilayah sekitar operasional SPPG. Fokusnya jelas: memperbaiki sarana dan prasarana, sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan bermartabat.
Di tengah berbagai tantangan pendidikan, inisiatif seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu harus datang dari pusat. Dari daerah, dengan kepedulian dan konsistensi, langkah kecil bisa menjelma menjadi gerakan besar yang berdampak nyata bagi masa depan generasi bangsa.



