Kota Bekasi, Korannusantara.id — Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kota Bekasi mengecam keras serangan yang diduga dilakukan Israel dan mengakibatkan gugurnya prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tengah menjalankan misi perdamaian di Lebanon.
Pernyataan sikap itu disampaikan Pengurus Daerah KAMMI Kota Bekasi pada Jumat, (3/4/2026) Di Kopi Paneleh Kota Bekasi. Organisasi mahasiswa tersebut menilai insiden yang menimpa prajurit TNI bukan sekadar tragedi kemanusiaan, tetapi juga menyangkut kehormatan negara dan wibawa Indonesia di mata internasional.
Dalam keterangannya, Pengurus Daerah KAMMI Kota Bekasi menyebut serangan terhadap personel TNI yang sedang bertugas dalam misi perdamaian merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Mereka menilai peristiwa itu menjadi luka mendalam bagi bangsa Indonesia, sekaligus cerminan bahwa konflik di kawasan tersebut terus menimbulkan ancaman serius terhadap pasukan penjaga perdamaian.
PD KAMMI Kota Bekasi pun menyampaikan empat poin sikap tegas. Pertama, mengutuk keras tindakan brutal terhadap prajurit TNI yang sedang menjalankan tugas perdamaian. Kedua, mendesak pemerintah Indonesia mengambil langkah nyata, tegas, dan bermartabat di forum internasional. Ketiga, menyerukan dunia internasional agar tidak lagi menerapkan standar ganda dalam menegakkan keadilan. Keempat, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu menjaga kehormatan bangsa dan membela nilai-nilai kemanusiaan.
Selain itu, KAMMI juga mengajak umat Islam untuk memperkuat solidaritas melalui doa bersama. Seruan tersebut diwujudkan dengan ajakan melaksanakan salat gaib sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi para syuhada yang gugur dalam menjalankan tugas negara.
Ketua Umum PD KAMMI Kota Bekasi, Arjuna Efendi, menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dipandang sebagai insiden biasa. Menurutnya, tragedi itu harus menjadi momentum bagi rakyat Indonesia, khususnya kalangan pemuda, untuk menunjukkan keberpihakan terhadap keadilan dan kemanusiaan.
“Dalam prinsip KAMMI, Kebathilan adalah musuh abadi KAMMI. Ini bukan hanya tentang satu serangan, ini tentang harga diri bangsa. Ketika prajurit kita disakiti, maka seluruh rakyat Indonesia seharusnya merasakan luka yang sama. Kita tidak boleh diam. Suara kita hari ini adalah bentuk keberpihakan apakah kita bersama keadilan atau membiarkan kezaliman terus berjalan. Saatnya pemuda berdiri di barisan terdepan, bukan sekadar mengecam, tapi menggerakkan.”
Arjuna juga menilai gugurnya prajurit TNI di Lebanon harus menjadi alarm bagi semua pihak bahwa keberanian untuk berdiri di sisi kebenaran tidak boleh luntur. Ia menegaskan, bangsa Indonesia tidak boleh menjadi penonton atas berbagai tindakan yang mencederai rasa keadilan dan kemanusiaan.
Sementara itu, Habibi selaku KABID Kebijakan Publik PD KAMMI Kota Bekasi turut menyoroti isu yang ramai diperbincangkan di media sosial terkait wafatnya prajurit TNI yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian UNIFIL di Lebanon. Menurutnya, insiden tersebut bukan hanya berdampak pada aspek kemanusiaan, tetapi juga memiliki implikasi serius dalam konteks hukum dan hubungan internasional.
Habibi menilai, ada empat poin utama yang terciderai dalam peristiwa tersebut, yakni:
1. Pelanggaran Hukum Humaniter Internasional
2. Pelanggaran Resolusi DK PBB 1701
3. Aturan Keterlibatan (Rules of Engagement)
4. Penghinaan Terhadap Kedaulatan Indonesia.
Selain menyampaikan sikap politik dan kemanusiaan, Habibi juga mengajak masyarakat luas untuk meningkatkan solidaritas terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina melalui langkah ekonomi, termasuk seruan memboikot produk-produk konsumsi harian yang dinilai terafiliasi dengan Israel.
Lanjut Habibi, KAMMI Kota Bekasi berharap pemerintah Indonesia, lembaga internasional, serta masyarakat dunia tidak menutup mata terhadap insiden yang merenggut nyawa prajurit TNI tersebut. Organisasi ini menegaskan bahwa gugurnya pasukan perdamaian Indonesia harus menjadi perhatian serius dan ditindaklanjuti secara diplomatik maupun hukum di tingkat internasional. Pungkasnya.
Sebelumnya, Insiden yang menewaskan prajurit TNI itu terjadi dalam dua peristiwa berbeda di wilayah Lebanon selatan. Sebelumnya, pada Minggu (29/3), Praka Farizal Rhomadhon dilaporkan tewas setelah sebuah proyektil meledak di dekat salah satu posisi pasukan perdamaian di sekitar Desa Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan.
Kemudian, pada Senin (30/3), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali mengonfirmasi dua prajurit TNI lainnya meninggal dunia setelah sebuah ledakan menghantam konvoi logistik United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Dalam insiden tersebut, dua prajurit lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka. Peristiwa itu disebut terjadi di dekat Bani Hayyan, Lebanon selatan.
Adapun tiga prajurit TNI yang gugur dalam rangkaian insiden tersebut adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dan Praka Farizal Rhomadhon.



