Korannusantara.id –Tapanuli Selatan, Perubahan bentang alam di kawasan Ekosistem Batang Toru mulai terasa nyata bagi masyarakat.
Sungai Batang Toru yang dahulu dikenal jernih dan menjadi sumber kehidupan warga kini berubah keruh dan kumuh.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menggerus tradisi kearifan lokal masyarakat setempat.
Beberapa tahun lalu, saat dilakukan pengujian kualitas air Sungai Batang Toru, sejumlah pejabat bahkan tidak ragu meminum langsung air sungai tersebut.
Di antaranya saat itu Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho, serta Bupati Tapanuli Selatan saat itu, Syahrul M. Pasaribu.
Kini kondisi sungai tersebut jauh berbeda.
Pada masa lalu, Sungai Batang Toru dikenal sebagai sungai yang kaya akan berbagai jenis ikan air tawar.
Aktivitas memancing maupun menjala kerap dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Selain itu, sungai-sungai yang berada di kawasan Ekosistem Batang Toru juga menjadi tempat berlangsungnya tradisi kearifan lokal masyarakat seperti Marpangir dan Mamasu Dahanon, ritual adat yang dilakukan dengan memanfaatkan air sungai.
Namun kini tradisi tersebut hampir tidak lagi dilakukan.
Ketua DPW Sarekat Hijau Indonesia Sumatera Utara, Hendra Hasibuan, mengatakan perubahan kondisi sungai sangat dipengaruhi aktivitas di wilayah hulu.
Menurut dia, hilangnya tutupan hutan di kawasan pegunungan dan perbukitan di Ekosistem Batang Toru menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi sungai.
“Jika tutupan hutan hilang, tentu akan mempengaruhi aliran sungai sehingga terlihat kumuh, khususnya di kawasan Ekosistem Batang Toru. Salah satu dampaknya adalah hilangnya tradisi kearifan lokal seperti Marpangir dan Mamasu Dahanon,” kata Hendra.
Cerita serupa juga disampaikan masyarakat setempat.
Seorang warga, M. Pardede, mengatakan beberapa tahun lalu masyarakat masih sering memanfaatkan air Sungai Batang Toru sebagai sumber air minum.
“Iya dulu air Sungai Batang Toru sering diminum, bahkan ada sebagian masyarakat memasaknya untuk dijadikan air minum. Kalau sekarang mana ada lagi yang berani karena takut sudah tercemar. Sekarang masyarakat lebih memilih membeli air kemasan untuk konsumsi,” ujarnya.
Warga juga mulai khawatir dengan kondisi air sungai yang diduga telah tercemar.
Salah seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan masyarakat bahkan ragu menggunakan air sungai untuk mandi karena takut menimbulkan penyakit.
“Kalau dilihat langsung ke lapangan, kondisi air sungai sangat memprihatinkan. Masyarakat khawatir jika digunakan mandi bisa menimbulkan gatal-gatal atau penyakit lainnya,” katanya.
Menurut Hendra Hasibuan, kondisi bentang alam Batang Toru saat ini menunjukkan tanda-tanda krisis ekologis.
Ekosistem yang selama ini dikenal sebagai paru-paru hijau Sumatera Utara dilaporkan terus menyusut akibat berbagai aktivitas ekstraktif seperti pertambangan emas, pembangunan pembangkit listrik tenaga air, serta ekspansi perkebunan kelapa sawit.
“Batang Toru dulu dikenal dengan kelestarian hutannya, dan sungainya sering disebut sebagai cermin alam. Sekarang banyak berubah. Hutannya hilang, sungainya kumuh, dan ancaman bencana ekologis semakin sering menghantui masyarakat,” ujar Hendra.
Degradasi Hutan dan Ancaman Ekologi
Hasil pemantauan udara di kawasan penyangga Ekosistem Batang Toru menunjukkan adanya degradasi hutan yang signifikan.
Hilangnya vegetasi hutan menyebabkan kemampuan tanah menyerap air hujan menurun drastis.
Akibatnya, saat musim hujan debit sungai meningkat tajam dan membawa sedimen lumpur serta sisa kayu dari hulu.
Sebaliknya pada musim kemarau, aliran sungai menjadi dangkal dan keruh.
Di sepanjang bantaran sungai, tumpukan sampah dan sisa material banjir bandang terlihat menumpuk.
Sebagian warga juga menuding adanya pembuangan limbah dari aktivitas pertambangan emas di kawasan Batang Toru.
Kondisi tersebut mempercepat erosi di sepanjang tepian sungai dan mulai mengancam permukiman warga serta lahan pertanian.
Ekosistem Batang Toru sendiri merupakan habitat penting bagi satwa langka seperti Orangutan Tapanuli dan Harimau Sumatera yang kini statusnya semakin terancam.
Bagi masyarakat yang tinggal dari hulu hingga hilir, kerusakan lingkungan di kawasan ini bukan hanya soal alam, tetapi juga soal hilangnya identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
(Indra Saputra)



