Korannusantara.id – Artikel, Dalam beberapa hari terakhir, ruang digital di Indonesia diramaikan oleh narasi yang saling menyesatkan dan mengkafirkan, khususnya terhadap kelompok Syiah. Bahkan, ada yang menyamakan kelompok mazhab tertentu dengan Zionisme, sebuah generalisasi yang berpotensi memperdalam jurang perpecahan di tengah umat Islam sendiri.
Padahal, jika menengok sejarah, perpecahan internal kerap menjadi faktor yang melemahkan posisi politik dan solidaritas dunia Islam dalam menghadapi tantangan eksternal.
Perang Arab–Israel dan Perubahan Arah Politik Kawasan
Dalam rentang Perang Arab–Israel 1967 hingga 1973, negara-negara Arab mengalami kekalahan strategis, terutama dalam Perang Enam Hari 1967. Saat itu, Iran masih berada di bawah kepemimpinan Mohammad Reza Pahlavi. Pemerintahannya dikenal memiliki hubungan erat dengan Amerika Serikat, Inggris, dan Israel. Secara resmi Iran tidak terlibat langsung dalam konflik militer, namun hubungan diplomatik dan kerja sama energi dengan Barat tetap berjalan, bahkan ketika sebagian negara Arab melakukan embargo minyak terhadap Israel dan sekutunya.
Kekalahan tersebut mendorong perubahan pendekatan sebagian negara Arab, terutama di kawasan Teluk. Dari semula mengedepankan konfrontasi terbuka, sejumlah negara mulai menempuh jalur diplomasi dan kerja sama strategis dengan Barat, termasuk melalui berbagai perjanjian perdamaian dan normalisasi hubungan yang berdampak pada kerja sama ekonomi dan keamanan.
Revolusi Islam Iran dan Perubahan Poros Politik
Situasi berubah drastis ketika Revolusi Islam Iran 1979 meletus di bawah kepemimpinan Ruhollah Khomeini. Revolusi ini menggulingkan Shah dan mengubah sistem pemerintahan Iran menjadi Republik Islam dengan konsep Wilayatul Faqih. Arah politik luar negeri Iran pun bertransformasi dari pro-Barat menjadi anti-Zionis dan kritis terhadap dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah.
Sejak saat itu, hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya memburuk, disertai gelombang sanksi ekonomi yang berlangsung selama puluhan tahun. Iran memposisikan diri sebagai bagian dari poros perlawanan terhadap Israel dan hegemoni Barat di kawasan.
Faktor Internal: Perpecahan Mazhab dan Sektarianisme
Namun demikian, dinamika geopolitik tidak hanya ditentukan oleh faktor eksternal. Sejarah menunjukkan bahwa perbedaan mazhab, konflik sektarian, serta praktik saling mengkafirkan di internal umat Islam turut melemahkan solidaritas kolektif. Ketika negara-negara Muslim terpecah karena isu teologis dan politik domestik, sulit tercipta persatuan strategis dalam menghadapi tantangan bersama.
Narasi takfiri yang kembali menguat di ruang publik Indonesia hari ini seakan mengulang pola lama membenturkan mazhab, memperuncing perbedaan, dan mengaburkan pesan persaudaraan Islam.
Dinamika dan Pertanyaan Geopolitik
Pertanyaan besar yang muncul adalah: jika terjadi eskalasi konflik besar di Timur Tengah, apakah Iran akan menghadapi tekanan sendirian? Bagaimana sikap negara-negara Teluk apakah akan bersikap netral secara militer, ataukah tetap mempertahankan kerja sama strategis dengan Amerika Serikat yang selama ini melibatkan pangkalan militer dan kepentingan energi?
Jawabannya tentu sangat bergantung pada dinamika dan eskalasi politik di kawasan. Namun satu hal yang jelas, tanpa soliditas internal umat Islam, setiap krisis eksternal berpotensi memperdalam fragmentasi.
Bagian pertama ini menjadi pengantar untuk memahami mengapa kemudian lahir inisiatif besar seperti Risalah Amman 2004 sebuah seruan persatuan lintas mazhab yang menegaskan larangan saling mengkafirkan dan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan.



