Korannusantara.id – Jakarta, Aktivis Pemuda dan Mahasiswa Islam Mhd. Isnen Harahap menilai pengangkatan Arief Rosyid sebagai Sekretaris Akademi Partai Golkar bukan sekadar penataan struktur organisasi, melainkan bagian dari strategi politik jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan kepemimpinan partai melalui mekanisme kaderisasi yang terencana dan sistematis.
Menurut Isnen yang juga Fungsionaris PB HMI, langkah tersebut tidak dapat dilepaskan dari arah kepemimpinan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang dinilainya memiliki visi kuat dalam menyiapkan generasi penerus partai, bukan hanya untuk kepentingan elektoral jangka pendek, tetapi untuk keberlanjutan institusional Golkar sebagai partai besar.
“Regenerasi kepemimpinan tidak boleh dibiarkan berjalan alamiah tanpa desain. Penunjukan Bang Arief Rosyid di Akademi Golkar menunjukkan bahwa di bawah kepemimpinan Ketum Bahlil, proses kaderisasi ditempatkan sebagai jantung strategi politik partai,” ujar Isnen.
Ia menilai, selama ini banyak partai politik terjebak pada politik figur dan elektabilitas sesaat, tanpa membangun fondasi intelektual dan ideologis bagi kader mudanya.
Dalam konteks itu, Akademi Partai Golkar berfungsi sebagai ruang institusional untuk mentransmisikan nilai, disiplin organisasi, serta kompetensi kepemimpinan kepada generasi baru.
“Ketum Bahlil membawa pendekatan visioner karena tidak hanya memikirkan kemenangan politik hari ini, tetapi juga menyiapkan siapa yang akan memimpin Golkar dan bangsa ini ke depan. Itu ciri kepemimpinan strategis, bukan sekadar taktis,” tegasnya.
Isnen juga menekankan bahwa keberhasilan regenerasi kepemimpinan tidak hanya diukur dari usia kader, tetapi dari kualitas pemikiran, etika politik, dan kapasitas teknokratis yang dibentuk melalui pendidikan politik yang berkelanjutan.
“Jika kaderisasi dikelola secara serius, maka partai tidak akan bergantung pada satu atau dua tokoh. Golkar sedang membangun sistem, bukan sekadar mengorbitkan figur,” tambahnya.
Menurut Isnen, arah kebijakan ini penting bagi demokrasi Indonesia karena partai politik merupakan pintu utama rekrutmen elite kekuasaan. Tanpa kaderisasi yang sehat, demokrasi akan dipenuhi politisi instan yang miskin gagasan dan lemah integritas.
Dengan demikian, ia memandang kepemimpinan Bahlil di Partai Golkar sebagai momentum pembaruan politik internal melalui jalur pendidikan kader, dan pengangkatan Arief Rosyid sebagai Sekretaris Akademi Golkar sebagai simbol konkret dari agenda regenerasi tersebut.
“Golkar sedang mengirim pesan bahwa masa depan partai tidak diserahkan pada kebetulan, tetapi dipersiapkan melalui proses. Inilah makna regenerasi kepemimpinan yang sesungguhnya,” pungkas Isnen.



