• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Nasional

Sang Profesor Stone Rose, Pemberani Hidup dari Titik Nol

Penulis : Muhammad Joni

Redaksi by Redaksi
12 September 2025
in Nasional, Opini
0
Terbelit Program Sosial: Ternyata BI oh BI

Ket : Muhammad Joni ( Penulis )

0
SHARES
21
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Korannusantara.id – Opini , Tak semua orang melaju dengan karpet merah terbentang di depan langkah.
Hasim Purba justru lahir di jalan cadas, “tanah” kehidupan yang keras, gersang, penuh batu tajam yang hanya bisa ditembus oleh satu hal: tekad baja.

Anak Parbutaran, lahir 3 Maret 1966, Hasim Purba tumbuh di sela “gunung” yang kering. Namun justru di sanalah akar keberanian tertanam, pemihakan kepada kaum lemah bersemayam.

Dari titik nol, ia menempuh jalan berliku: belajar, bekerja, bergaul, berjuang, hingga berdiri di puncak karier akademis sebagai Guru Besar Ilmu Hukum Perdata Universitas Sumatera Utara (USU). Kampus yang berjanji menjadi “Pengabdi Bangsa”, begitu credo dari sepenggal lirik Mars USU.

Kala itu tahun 1985. Ya, ketika ribuan anak muda berebut kursi kuliah lewat Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru), Hasim melangkah lewat jalur masuk bebas tes: PMDK. Dari SMA 3 Pematang Siantar, ia masuk Fakultas Hukum USU tanpa ujian tulis sebuah tiket emas prestasi, tapi juga awal tanggung jawab besar.

Ia bukan hanya mahasiswa rajin yang larut dalam buku, dengan catatan kuliah rapi dan lengkap, melainkan juga kader kental Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), aktivis tahan banting yang hidup keras, sehingga pantas menyabet beasiswa.

Tahukah pembaca, di masanya ia pernah menjadi pemimpin telly di kerasnya pelabuhan Belawan? Melompat dari kapal ke truk, menghitung muatan di tengah hembusan hawa asin laut dan keringat buruh. Dari dermaga hidup itulah ia belajar bahwa hukum tak boleh berhenti di pasal, hukum harus mengalir di nadi rakyat.

Dari sana ia diutus menjalankan misi tulus: menjaga kejujuran menghitung karung beras yang turun dari kapal ke truk angkut, memastikan masuk ke gudang di pelabuhan.

Titik Melompat
Pertemuannya dengan Prof. Hasnil Basri Siregar, S.H. dosen yang kemudian menjabat Dekan Fakultas Hukum dan Guru Besar USU sekaligus pengusaha angkutan ternama adalah titik melompatnya.

Berkat keuletan, ketulusan, dan totalitasnya, Hasim Purba menjadi tangan kanan, bukan sekadar asisten. Dari Prof. Hasnil pula ia mendapat hangatnya “kompor” keberanian untuk maju, tak gentar menikahi Junita Sari Hasibuan, kader HMI, Ketua Korp HMI Wati, alumni FISIP USU. “Hidup ini bukan untuk penunggu senja, Sim, tapi untuk pelompat,” begitu kira-kira pesan gurunya itu.

Dari sanalah ia belajar: keberanian pribadi adalah bagian dari keberanian hidup. Ia merasakan menjadi transformer awal, debut dari berlikunya tikungan tajam bernama takdir.

Pendidikan akademik S1–S2–S3 semua ditempuh dari USU. Dari sarjana, magister, hingga doktor, ia tak pernah meninggalkan tanah kelahiran akademiknya.

Disertasi doktoralnya membahas seluk-beluk pertanggungjawaban perdata produsen juncto maskapai pesawat udara. Itu bukan sekadar kajian produk hukum, tapi panggilan hati agar hukum harus menyelamatkan nyawa manusia, bahkan di ruang angkasa 3.000 kaki jelajah pesawat udara.

Bukan dengan pesawat udara, usai pengukuhan menjadi Guru Besar, ia diarak pulang dengan beca dayung. Bulan Februari 2016, USU mengukuhkan dua Guru Besar Ilmu Hukum, salah satunya Prof. Dr. Hasim Purba, S.H., M.Hum.

Orasi ilmiahnya berjudul “Mewujudkan Keselamatan Penerbangan dengan Membangun Kesadaran Hukum bagi Penerapan Safety Culture” sebuah seruan bahwa hukum tak boleh berhenti pada catatan kasus, melainkan harus mencegah tragedi pesawat udara dengan segala aspek hukumnya.

Oh ya, aturan kita acap abai dan lunglai membela hak perdata dan asuransi global setiap penumpang dan kru yang terbang. Jangan pula pengacara Amerika Serikat masih jaya berkuasa, walau kasus crash pesawat jatuh di lautan Pulau Seribu di depan serambi Jakarta.

Usai orasi, adik-adik dan koleganya berinisiatif mengaraknya naik beca dayung ke rumah dinas di kawasan kampus USU. Bukan mobil mewah, melainkan beca rakyat yang berhias. Pemandangan itu lebih indah dari pesta seribu cahaya: Guru Besar Hukum diarak oleh rakyat, untuk rakyat.

Di kepalanya bergema Mars USU: Mengabdi pada bangsa, berjasa untuk nusa, USU rumah kita, ilmu sulung jaya.
Dan ia memang menjelma mars itu—ilmu yang sulung, jaya, tapi tetap rendah hati mengabdi pada bangsa.

Aktivis dan Pembela Rakyat
Hasim Purba bukan hanya profesor. Ia pun aktivis sosial, dipilih langsung menjadi Ketua KAHMI Medan lewat demokrasi yang sengit namun hangat dalam tradisi satu keluarga hijau-hitam. Ia berlaga dengan Dr. dr. Delyuzar Haris, kini Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran USU. Saya ikut merasakan denyut perhelatan demokrasi unik ala KAHMI Medan itu, duduk lekat di sisinya.

Juga, Prof. Hasim maju menjadi pembela mereka yang tak berdaya. Atas nama Tim Hukum KAHMI Medan, ia membela Himmah, dosen USU yang dituduh ujaran kebencian. Suhu politik saat itu tinggi. Dari PN Medan hingga Mahkamah Agung, akhirnya menjatuhkan putusan bebas murni. Padahal sang dosen ilmu bahasa USU itu bukan anggota KAHMI.

Mengapa? “Sikap keprihatinan membela korban yang teraniaya hukum,” jelas Ahmad Sandri Nasution, lawyer KAHMI Medan yang ditugaskan Prof. Hasim membela dari hati yang tak tenang sampai akhirnya bahagia-menang.

Ia juga yang merumuskan Perda No. 4 Tahun 2008 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis, demi melindungi anak-anak yang dijadikan alat sindikat. Baginya, hukum tak boleh membiarkan bayi dijadikan komoditas empati di jalan.

Ia tahu hukum harus punya wajah tulus-total: wajah anak-anak yang menangis di pelukan ibu, wajah buruh yang letih di pelabuhan, wajah rakyat kecil yang menanti pembela.

Metafora The Stone Roses
The Stone Roses itulah metafora hidupnya. Mawar batu yang tumbuh di sela cadas keras. Itu bukan bunga lembut yang mudah layu, melainkan keindahan yang keras kepala. Tumbuh di tanah tandus, mekar di tempat cadas yang terjepit namun bisa tumbuh indah. Hasim Purba adalah bunga batu itu: keras, teguh, tetapi tetap menghadirkan keindahan.

Ia hidup dengan dua credo HMI sejati: Yakin Usaha Sampai dan Bersyukur dan Ikhlas. Dari Parbutaran ke Siantar, dari Belawan ke Medan, dari nol hingga Guru Besar Prof. Hasim membuktikan bahwa jalan cadas pun bisa melahirkan “bunga” Pengabdi Bangsa.

Epilog Sahabat
Dan aku, Muhammad Joni, sahabatnya, menyaksikan lekat dari dekat: hidup Hasim bukan ditulis dengan tinta pena, melainkan dengan tinta keberanian. Dari titik nol, ia menjelma profesor. Dari dermaga keringat rakyat, ia menjelma pembela rakyat. Dari sela cadas, ia menjelma The Stone Roses.

Bagi yang belum mafhum, The Stone Roses adalah band rock alternatif Inggris yang dibentuk di Manchester pada tahun 1983. Mereka salah satu kelompok perintis gerakan Madchester yang aktif selama akhir 1980-an dan awal 1990-an. Made of Stone adalah salah satu lagunya.

Mengapa memilih metafora The Stone Roses? Sederhana saja, karena realitas hidup yang aneh tapi nyata menggambarkan dua hal besar: kekerasan dan keindahan, serta cinta. Batu adalah simbol keras, beku, tak bersahabat.

Hasim Purba menyatukan keduanya: keras dalam prinsip, indah dalam pengabdian. Dan tumbuh di tempat nyaris mustahil mawar batu adalah bunga yang tumbuh di sela cadas, mustahil namun nyata. Itulah perjalanan Hasim: dari kampung sederhana tanpa privilese, hingga profesor yang membela rakyat. Dari SMA 3 sampai strata S-3.

Majelis pembaca, menurut saya, esai Prof. Hasim: Pemberani Hidup dari Titik Nol Sang Profesor Stone Roses sangat tepat menjadi katalog pembelajaran berani hidup bagi jihad mahasiswa. Bahkan gizi ruhani bagi totalitas sivitas akademika USU.

Walau esai ini singkat, sisi dramatis sekaligus metaforis The Stone Roses bisa panjang. Namun dicukupkan untuk mewakili seruan tulus-jujur, total-tekat, dan keberanian dari nol menghela perubahan: menjadi transformer.

Dan ini asa pro bono menebarkan energi juncto inspirasi untuk jejak keras, loyal, menghela tekad, dan seni keindahan perjuangan hidup anak manusia. Modal menjaga almamater. Walau bukan Made of Stone, USU dibuat dan berdiri dari akal budi tinggi. Catat: USU Pengabdi Bangsa. Saya tidak sedang berfantasi!

Tinggalkan gaya, bangun karya: Pengabdi Bangsa!

Tabik,
Muhammad Joni

 

181
Tags: Hasim PurbaOpiniPemberani HidupPengabdi BangsaProfesor Stone RoseTitik Nol
Previous Post

Pangdam I BB Ajak BEM dan Pimpinan Cipayung Plus Jaga Persatuan Sumut Lewat Silaturahmi

Next Post

Heboh Kapolri Akan Diganti? Prabowo Dikabarkan Kirim Supres ke DPR RI

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
Tegas! Kapolri: Akan Tangkap Pelaku Demo Rusuh, Termasuk Aktor dan Donaturnya

Heboh Kapolri Akan Diganti? Prabowo Dikabarkan Kirim Supres ke DPR RI

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Ucapan Selamat

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.