• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Opini

Kontes Kecantikan Indonesia di Antara Kontroversi dan Jargon Pemberdayaan

Novita Sari Yahya – Peneliti, Penulis, dan Direktur Nasional Indonesia 2023–2024

Redaksi by Redaksi
27 Agustus 2025
in Opini, Pariwisata
0
Kontes Kecantikan Indonesia di Antara Kontroversi dan Jargon Pemberdayaan

Ket : Novita Sari Yahya – Peneliti, Penulis, dan Direktur Nasional Indonesia 2023–2024

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Korannusantara.id – Opini, Isu kontes kecantikan di Indonesia kembali mencuri perhatian publik. Judul “Kontes Kecantikan Indonesia di Antara Kontroversi dan Jargon Pemberdayaan” dipilih karena keriuhan yang kerap muncul terkait kriteria penilaian ajang kecantikan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Pernyataan Valery Brahmana mengenai Miss Universe Indonesia 2025 yang ramai diberitakan media dan ditayangkan di televisi nasional, menjadi pemicu perdebatan luas. Bahkan sejumlah akademisi turut menanggapi dengan menulis parodi, baik dalam bentuk kritik serius maupun satir.

Sebagai Direktur Nasional Indonesia 2023–2024 yang pernah memegang 40 lisensi internasional, meski hanya berhasil mengirimkan beberapa perwakilan, saya memiliki pengalaman langsung dalam dunia kontes kecantikan Indonesia. Dari pengalaman inilah, saya ingin berbagi perspektif agar masyarakat dapat memahami secara lebih mendalam dinamika penyelenggaraan kontes kecantikan di Indonesia.

Kontes kecantikan sejatinya adalah bagian dari dunia hiburan. Layaknya hiburan lain, sebuah acara harus dikemas menarik agar mendapat perhatian publik dan dukungan sponsor. Dukungan sponsor inilah yang menjadi faktor penentu terselenggaranya sebuah kompetisi besar.

Seperti yang pernah diungkapkan Ivan Gunawan, jika ia tidak berkecimpung di dunia kontes kecantikan, mungkin ia sudah membuka banyak bisnis baru. Pernyataan ini membuktikan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan kontes sekelas Miss Mega Bintang sangat besar, demi meraih atensi publik dan dukungan sponsor, khususnya dari para pecinta pageant di Indonesia.

Tidak jarang saya juga mendapat pertanyaan dari warganet: “Apakah saya mampu secara finansial untuk mengelola 40 lisensi dan mengirimkan wakil Indonesia ke ajang internasional, hingga beberapa di antaranya meraih posisi runner-up?”

Pertanyaan itu saya kembalikan kepada masyarakat: apakah Indonesia saat pertama kali merdeka sudah siap sepenuhnya dalam aspek finansial? Meskipun perbandingannya tidak sepadan, penyelenggaraan kontes membutuhkan kecerdasan manajemen dan diplomasi, bukan hanya uang.

Di sinilah kemampuan seorang Direktur Nasional dan tim diuji, mulai dari mengelola pemilihan nasional hingga mengirimkan wakil ke panggung internasional. Akses jaringan sponsor juga menjadi kunci. Kritik yang dilontarkan Valery pun cukup relevan: lisensi kerap dikuasai perusahaan asing, lalu menunjuk warga Indonesia sebagai Direktur Nasional, sehingga kepentingan sponsor lebih dominan daripada misi pemberdayaan.

Penyelenggaraan kontes kecantikan selalu mengusung jargon pemberdayaan perempuan. Namun, sering kali jargon ini bertabrakan dengan kepentingan industri kecantikan yang cenderung menekankan penampilan fisik dan branding media sosial. Padahal, konsistensi serta komitmen jauh lebih penting daripada sekadar citra.

Sebagai bagian dari industri hiburan yang sangat bergantung pada sponsor, keberanian Direktur Nasional dan tim dalam menetapkan standar pemilihan yang independen menjadi sangat krusial. Keberhasilan ajang kontes bukan hanya ditentukan oleh glamor panggung, tetapi juga sejauh mana ia mampu menjaga integritas tanpa tunduk pada tekanan sponsor.

Kriteria pemilihan peserta harus terukur dan jelas. Seorang finalis tidak hanya dituntut memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, tetapi juga mampu tampil sebagai role model bagi perempuan Indonesia di kancah internasional.

Dalam kepemimpinan saya sebagai Direktur Nasional, saya menekankan agar semua kegiatan dan penampilan finalis tetap berlandaskan budaya dan kepribadian Indonesia. Publikasi tidak boleh mengeksploitasi tubuh perempuan dengan pakaian terbuka. Fokus utama harus diarahkan pada pencapaian prestasi, kegiatan sosial, serta nilai kebermanfaatan bagi masyarakat. Kontrak pemenang pun hanya berlaku satu tahun, sehingga setelahnya mereka bebas mengembangkan diri untuk kontribusi lebih luas.

Saya selalu menekankan prinsip sederhana: “Jadilah ratu di hati rakyat Indonesia.”

Sebagai bentuk advokasi nyata, saya mengusung gerakan Self Love: Rumah Perlindungan Diri yang menjadi standar dalam pemilihan kontes. Gerakan ini menekankan 10 prinsip, antara lain:

Menolak narkoba

Tidak melakukan pergaulan bebas

Tidak mengonsumsi alkohol

Tidak dugem

Rajin berolahraga

Menjalani pola hidup sehat

Fokus pada tujuan hidup

Menghindari lingkungan toksik

Melakukan kegiatan positif

Tidak merokok

Setiap prinsip tersebut diverifikasi dengan tes terukur, seperti tes NAPZA, pemeriksaan laboratorium, psikotes, hingga pengecekan rekam jejak media sosial. Transparansi inilah yang menjadi dasar objektif mengapa seorang finalis layak mewakili Indonesia.

Pada tahun 2025, saya memutuskan untuk beristirahat dari dunia kontes kecantikan demi fokus pada gerakan literasi dan pengembangan Self Love: Rumah Perlindungan Diri. Meski begitu, saya tetap membuka peluang kerja sama dengan sponsor dan masyarakat yang ingin mendukung lahirnya ekosistem kontes kecantikan yang sehat, bersih, dan konsisten dengan nilai pemberdayaan.

Bagi saya, mendidik perempuan berarti mendidik generasi. Kutipan Bung Hatta selalu menjadi pijakan saya:

“Jika kamu mendidik satu laki-laki, maka kamu mendidik satu orang. Namun, jika kamu mendidik satu perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.”

 

Views: 847
Tags: KecantikanKontes KecantikanMiss UniverseNovita Sari YahyaPemanfaatanPemberdayaanWanita
Previous Post

Kostrad Tertibkan Rumah Dinas Tanah Kusir, Hargai Hak Prajurit Aktif

Next Post

Korlantas Polri-Kemenhub Bentuk Satgas, Wujudkan Jalan Raya Berkeselamatan

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
Korlantas Polri-Kemenhub Bentuk Satgas, Wujudkan Jalan Raya Berkeselamatan

Korlantas Polri-Kemenhub Bentuk Satgas, Wujudkan Jalan Raya Berkeselamatan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.