Korannusantara.id – Mandailing Natal,
Di tengah hamparan alam yang sejuk dan tenang di kaki Gunung Sorik Marapi, berdirilah sebuah desa kecil bernama Sibanggor Hulu. Dari desa inilah, lahir seorang sosok yang telah menjadi legenda hidup dalam pelayanan kesehatan masyarakat pedesaan di Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara. Namanya H. Suhdi Tanjung, atau yang lebih akrab dan akrab disapa oleh masyarakat sebagai “Mantri Suhdi.” Minggu (10/8/2025).
Lahir pada tahun 1954, H. Suhdi tumbuh dalam keluarga sederhana di desa yang sarat nilai adat dan agama. Sejak kecil, ia telah menunjukkan semangat belajar dan kepedulian terhadap sesama. Pendidikan dasar ia jalani di SD Sibanggor Julu, kemudian melanjutkan ke SMP Kayu Laut. Untuk bisa bersekolah, ia menempuh perjalanan kaki sejauh 5 kilometer setiap hari melewati jalan tanah, menyeberangi sungai, dan menanjaki bukit. Hal ini tidak menyurutkan semangatnya untuk menuntut ilmu.
Pendidikan menengah ia lanjutkan di SMA Siabu, hingga akhirnya pada tahun 1974, ia diterima dan menempuh pendidikan sebagai Juru Kesehatan di Rumah Sakit Umum Panyabungan. Dari sanalah awal langkah pengabdiannya sebagai petugas kesehatan dimulai sebuah perjalanan yang akan mengantarnya menjadi simbol keteladanan di daerahnya.
Langkah Awal Pengabdian: Puskesmas Maga dan Pelayanan Tanpa Lelah
Setelah menamatkan pendidikan jurusan kesehatan, H. Suhdi Tanjung ditugaskan di Puskesmas Maga, Kecamatan Lembah Sorik Marapi. Sebagai seorang mantri kesehatan, tugasnya bukan hanya sekadar berada di dalam ruangan.
Ia harus keluar masuk kampung, mengunjungi masyarakat yang sakit, memberikan pertolongan pertama, memantau kesehatan ibu hamil, bayi, dan lansia, bahkan membantu proses persalinan di pelosok desa.
Dengan sepeda motor Honda GL 100 kesayangannya, beliau menyusuri jalanan sempit, berbatu, dan berlumpur—menjangkau desa-desa terpencil di tiga kecamatan: Lembah Sorik Marapi, Puncak Sorik Marapi, dan Tambangan. Tidak jarang ia harus menembus hujan, kabut, dan malam gelap gulita untuk memenuhi panggilan masyarakat.
Bahkan ketika tubuh lelah dan mata ingin terpejam, ia tetap bangun dari tidur karena panggilan kemanusiaan. “Jam 3 pagi pun kalau ada yang mengetuk pintu, beliau tetap bangun dan siap berangkat,” kenang salah satu warga.
Dalam setiap kunjungannya, Mantri Suhdi selalu mengedepankan senyum dan keramahan. Ia hadir sebagai perantara ikhtiar bagi masyarakat yang sedang berjuang melawan penyakit, dan selalu mengingatkan bahwa kesembuhan adalah milik Allah SWT, manusia hanya berusaha.
Lebih dari Seorang Mantri: Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama
Tak hanya dikenal sebagai mantri, H. Suhdi juga dihormati sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama. Dalam berbagai kesempatan, beliau diundang untuk memberikan nasihat, memimpin doa, atau menjadi penengah persoalan sosial. Wawasan agama dan akhlaknya yang lembut menjadikannya sosok yang disegani dan dicintai lintas generasi.
Ia menetap di Desa Pasar Maga, kecamatan Lembah Sorik Marapi, sejak awal berkarir hingga kini. Dari pernikahannya, ia dikaruniai lima orang anak. Keluarga ini menjadi contoh keluarga ideal di lingkungannya hingga akhirnya dianugerahi Juara 1 Keluarga Sakinah tingkat Kabupaten oleh Departemen Agama Mandailing Natal.
Masa Pensiun yang Tetap Aktif: Mengabdi dengan Hati
Setelah puluhan tahun mengabdi di dunia kesehatan, H. Suhdi Tanjung resmi pensiun sebagai ASN. Namun, semangat pelayanannya tak pernah surut. Hingga hari ini, di usia 71 tahun, beliau masih aktif menerima warga yang datang ke rumahnya untuk berobat, bertanya soal kesehatan, atau sekadar mencari nasihat hidup.
Masyarakat masih menyebutnya “Mantri Suhdi”, sebuah gelar kehormatan yang bukan hanya karena profesinya, tetapi karena cinta dan kepercayaan yang ia tanam selama lebih dari 50 tahun.
“Kalau bukan karena Mantri Suhdi yang datang malam itu, mungkin kami tidak tahu harus berbuat apa. Tapi beliau datang tanpa keluh, walau hujan deras,” ujar salah satu warga dari desa tetangga.
Penutup: Warisan Teladan untuk Generasi
Dalam dunia yang makin sibuk dan individualistik, sosok seperti H. Suhdi Tanjung adalah pengingat bahwa pengabdian tak selalu harus besar, tapi harus ikhlas dan konsisten. Ia bukan hanya pelayan kesehatan, tapi pelayan kemanusiaan. Ia tidak hanya memberi obat, tetapi juga kehadiran, harapan, dan ketenangan bagi masyarakat.
Semoga kisah hidup dan pengabdian beliau menjadi teladan bagi generasi muda, khususnya bagi mereka yang berkecimpung di dunia pelayanan masyarakat. Dan semoga segala amal baik beliau diterima di sisi Allah SWT sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
“Yang menyembuhkan hanyalah Allah SWT, kami hanya menjalankan amanah untuk membantu sesama.”
( Ahmad ikhsan )



