Korannusantara.id – Jakarta, 3 Agustus 2025, Ahmad Tomi Wijaya resmi ditetapkan sebagai Koordinator Pusat Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia periode 2025–2027, menggantikan hasil Muktamar V yang sebelumnya menuai kontroversi dan dinilai cacat secara etik maupun moral oleh berbagai pihak.
Penetapan ini dilakukan dalam forum muktamar luar biasa yang digelar oleh perwakilan kampus dari seluruh Indonesia di bawah naungan Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia. Forum tersebut diselenggarakan secara demokratis, terbuka, dan tanpa adanya tekanan ataupun intimidasi. Forum ini menjadi bentuk koreksi atas penyelenggaraan Muktamar V yang dianggap menyimpang dari nilai-nilai musyawarah, keorganisasian, dan akhlak santri.
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan oleh juru bicara forum, Nauval Alfarizi, disebutkan bahwa Muktamar V yang dilaksanakan di Universitas Darunnajah Jakarta telah melanggar prinsip-prinsip dasar organisasi, seperti transparansi dan keadilan. Ia menegaskan bahwa forum tersebut dipenuhi berbagai penyimpangan.
“Kami menilai Muktamar V tidak sah secara moral dan etika. Terjadi manipulasi data peserta, pengabaian terhadap aspirasi yang berkembang, serta tindakan intimidatif terhadap peserta forum. Ini mencederai marwah organisasi yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan kebersamaan,” ujar Nauval.
Sebagai respons atas kekisruhan tersebut, forum akhirnya sepakat menunjuk Ahmad Tomi Wijaya sebagai sosok alternatif yang dinilai memiliki integritas, kapasitas kepemimpinan, dan pengalaman panjang dalam dunia organisasi santri di tingkat wilayah maupun nasional.
Dalam pidato perdananya, Ahmad Tomi menegaskan komitmennya untuk mengembalikan ruh perjuangan santri melalui kepemimpinan yang menjunjung tinggi adab, transparansi, serta semangat kolektif.
“Ini bukan soal jabatan atau kekuasaan. Ini adalah amanah besar untuk menjaga ruh perjuangan santri dalam bingkai kebangsaan dan keumatan. Saya akan memimpin dengan spirit keadaban, mengedepankan musyawarah, dan memperkuat soliditas antarwilayah,” ujar Tomi disambut tepuk tangan para peserta forum.
Penetapan Tomi disambut hangat oleh ratusan BEM kampus berbasis pesantren yang tergabung dalam Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia. Mereka menyampaikan harapan agar kepemimpinan baru ini mampu memperbaiki tata kelola organisasi, mengembalikan kepercayaan anggota, dan memperkuat peran santri dalam merespons isu-isu keummatan dan kebangsaan.
Dengan terpilihnya Ahmad Tomi Wijaya, Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia diharapkan mampu memasuki babak baru kepemimpinan yang bersih, profesional, dan berlandaskan nilai-nilai luhur pesantren.
( Red )



