Korannusantara.id – Bangun pagi tak langsung mandi, saya sarapan ala dokter Turki. Sembari meresapi lagu syahdu ‘Qolbi fil Madinah’ Di meja kerja, ada sepinggan adonan kalimat dari buku ‘Terapi Rumi’, karya Nevzat Tarhan, sejawat dokter spesialis psikiatri asal Turki.
Dari anak judul buku itu saja sudah klik, auto keren: ‘Dari Era Pengetahuan ke Era Kebijaksanaan’. Melalui jasa baik buku santun itu, misi agung sang Profesor psikiatri dan Rektor Uskudar University hendak menggabungkan “harta karun” hikmah-hikmah dari Rumi dengan ilmu moderen.
Di laman 23 alahai mata amba tersenyum sinis dengan kalimat bengis ini: ‘Pada zaman industri, kuda yang kuat akan lebih berharga daripada manusia yang lemah. Karena kuda memiliki peran dalam produksi’.
Seketika kemudian saya mengadu kepada novelis-hukum ‘The Rain Maker’. Dia senyum kecil tapi tak sinis. Malah unjuk gigi dengan novel ‘King of Tort’, sang raja gugat yang berhasil menarasikan kapitalisasi hukum yang merapat kepada kuda; eh maaf, yang kuat.
Bengis kepada manusia yang lemah namun santun ke kuda yang kuat – seperti diajarkan sahabat amba: Donald Black, bukan Donald Bebek. Saya disadarkan ajaran mazhab The Blackian yang jujur, bahwa hukum yang bengis membebek kepada yang kuat. Kekuasaan membesar maka adil mengecil.
Usai sarapan ala Turki, amba mencatatkan beberapa paragraf ini sebagai ‘Terapi Joni’ dengan anak judul ‘Dari Era Penguasaan Hukum ke Era Kebijaksanaan Hukum’.
Ayo, moh kite mulai “pacu nalar” duhai pakcik dan makcik penyuka mazhab The Ruminian.
Di era industri, manusia tak lebih dari roda gigi. Yang lemah disingkirkan, yang kuat dipacu hingga pecah. Ketika kuda lebih berharga dari manusia, maka nurani digadai demi produktivitas. Bukan kasih sayang yang diukur, tapi tenaga mata uang.
Kapitalisme bengis menjadikan peluh lebih suci dari doa, dan mesin lebih setia dari sahabat. Inilah zaman ketika manusia yang lambat dianggap beban, dan hanya yang bisa menarik kereta pabrik dianggap layak hidup.
Namun ketika abad ke-21 datang dengan janji pengetahuan, paradoks justru menampakkan wajahnya. Mesin-mesin pintar menggantikan otot dan otak, tetapi kebahagiaan tak jua bertambah. Kecepatan kerja meningkat, tapi depresi ikut melonjak.
Kita hidup dalam surplus informasi tanpa makna, dan terperangkap dalam logika tanpa jiwa. Pengetahuan membuat kita tahu banyak, tapi gagal memahami bijaksana yang sedikit. Kita melesat seperti peluru, tanpa tahu arah mata angin kebenaran.
Inilah sebabnya penghuni abad ini kudu bergeser nalar ke Abad Kebijaksanaan, bukan lagi Abad Pengetahuan. Karena setelah mengagungkan produktivitas dan menciptakan dewa-dewa algoritma, manusia haus akan makna. Bukan lagi “siapa tercepat”, tapi “siapa paling bijak”.
Dunia butuh bukan sekadar profesor dari menara gading, tapi orang bijak menginjak bumi dan bermunajat “online” ke langit. Bukan sekadar otak cerdas, tapi hati yang tercerahkan. Kita telah membangun menara gading dari sains, tapi kini kita mencari Rumi—untuk turun ke bumi membawa cahaya dan kebijaksanaan.
Orang bijak kudu turun “ke bumi” menjadi lawyer, dokter, ambtenar, youtuber, pun Rektor PTN. Bukan kuda pacu!
Ohya tadi ada tambahan sarapan penolak buta dari Prof. Nevzat Tarhan. Katanya: ‘Tanpa cahaya, butalah mata manusia’. ‘Tanpa rasa adil, butalah pengadilan-pengadilan’. ‘Tanpa etika kedokteran, butalah para dokter’. ‘Tanpa kebijaksanaan, butalah peradaban’.
Okelah kawan, amba nak pergi mandi, segarkan nalar dan bugarkan qolbi. ‘Qalbi fil Madinah
wajadas sakina
Muhammad nabina
asalamu alaik’.
Tabik.
(Adv.Muhammad Joni)



