Korannusantara.id – Jakarta, Gelaran Jakarta Fair (PRJ) 2025 yang seharusnya menjadi pesta tahunan rakyat justru menuai sorotan tajam. Salah satunya datang dari Sastro Situmeang, Wakil Ketua Pemuda Olahraga Organisasi Masyarakat Baladika Karya Satuan Serbaguna Provinsi DKI Jakarta. Ia menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan harga tiket masuk yang dinilai terlalu tinggi dan tidak ramah terhadap masyarakat kecil.(19/6)
Dalam keterangannya, Sastro menyayangkan bahwa acara yang awalnya dirancang sebagai pesta rakyat kini justru terasa semakin elitis. Ia menilai bahwa tiket seharga Rp40.000 hingga Rp60.000 membuat masyarakat, khususnya kalangan bawah, berpikir dua kali untuk datang dan menikmati acara yang seharusnya terbuka untuk semua kalangan.
“Katanya pesta rakyat, tapi harganya kok enggak merakyat! Ini sangat jelas akan menurunkan minat masyarakat untuk hadir. Bahkan pelaku UMKM yang berpartisipasi di dalamnya pun akan ikut terdampak karena sepi pengunjung,” ujar Sastro dengan nada tegas.
Sastro juga mengingatkan bahwa pada penyelenggaraan pertama di tahun 1968, PRJ sukses menyedot 1,4 juta pengunjung, sebuah angka fantastis untuk saat itu. Menurutnya, antusiasme tersebut tercipta karena akses yang mudah dan harga yang terjangkau.
Ia meminta kepada seluruh manajemen penyelenggara PRJ 2025 untuk lebih bijak dalam menentukan kebijakan harga tiket masuk. Bila benar ingin mempertahankan semangat pesta rakyat, maka aspek keterjangkauan harga harus menjadi prioritas utama.
“Kalau dibuat harga setinggi langit, ini bukan pesta rakyat namanya. Tolong pikirkan kembali. Jangan sampai acara tahunan ini hanya jadi ajang elit yang tidak dinikmati rakyat,” tambahnya.
Sastro menutup pernyataannya dengan harapan agar PRJ bisa kembali pada roh awalnya sebagai ajang perayaan seluruh lapisan masyarakat Jakarta bukan hanya untuk mereka yang mampu secara ekonomi.



