KoranNusnatara.id,KEPRI- Pembangunan dan pengembangan wilayah maritim di Indonesia hingga detik ini masih menjadi bahasan serius dilingkungan masyarakat, salah satunya maritim di Kepulauan Riau (Kepri).
Luasnya wilayah lautan dan perairan Kepri yang mencapai 96% yang hanya menyisakan 4% wilayah daratan, menjadi salah satu wilayah dengan potensi kelautan dan perikanan terbesar di Indonesia.
Pengelolaan dan pengembangan dari kekayaan maritim Kepri dinilai tidak cukup hanya dengan memanfaatkan nilai jual sumberdaya alamnya saja.
Dibutuhkan keterlibatan manusia dalam hal ini masyarakat Kepri yang berdaya, terampil dan memiliki kompetensi unggul agar pemanfaatan sumber daya maritim Kepri dapat mencapai kesejahteraan masyarakat.
Edi Putra dan Aprianti dalam bukunya yang berjudul “Sentimen Maritim: Kepri 2045”, mengklasifikasikan sumber daya manusia (SDM) menjadi dua kelompok yakni Sumber Daya Manusia dari Birokrat (SDMB) dan Sumber Daya Manusia dari Masyarakat (SDMM).
Buku yang baru saja terbit ini, berupaya untuk membuka cakrawala berpikir masyarakat khususnya pemuda Kepri dan pemerintah daerah, dalam menempatkan posisi SDMB dan SDMM sebagai salah satu faktor utama dan strategis dalam pencapaian pembangunan dan pengembangan masyarakat maritim di Kepri emas tahun 2045.
“Kemaritiman di Kepri ini cukup banyak yang bermasalah baik kelautan maupun perikanannya, termasuk pula wilayah dan manusianya. Namun selama ini kita didaerah terlalu fokus dengan bagaimana sumber daya alam maritim Kepri bisa dimanfaatkan dan dikembangkan dan memiliki nilai jual termasuk untuk kepentingan pendapatan daerah, tapi mengenyampingkan aktor utama yang akan memanfaatkan dan mengembangkan potensi itu, mereka adalah SDM Kepri”. Ujar Edi Putra pada Selasa (14/10/2025).

Pemuda yang berasal dari Pulau Abang, Galang Batam, yang akrab di sapa Dion ini menerangkan bahwa untuk mencapai Kepri emas 2045 pemerintah daerah Kepri harus mampu menyeimbangkan pembangunan dan pengembangan maritim Kepri dengan melibatkan dua aktor utama yakni SDMB dan SDMM.
“Kami berpandangan bahwa untuk mempersiapkan SDM unggul mencapai Kepri emas tahun 2045 tidak cukup hanya kepada satu pihak (SDMM) saja, tapi juga harus melibatkan SDMB. Cerdas dan terampil SDM Kepri harus melalui dua aktor ini. Dengan demikian keterlibatan dan kontribusi pembangunan maritim Kepri akan lebih maksimal kedepannya”. Lanjut penulis sekaligus mahasiswa magister ilmu pemerintahan FISIP UMRAH ini.
Dikesempatan yang sama, Aprianti berpendapat bahwa untuk mencapai SDM unggul Kepri 2045 harus disertai degan keseriusan pemerintah daerah dalam meningkatkan keterampilan masyarakat.
“Kita tidak mau berbagai palatihan dan peningkatan keterampilan masyarakat yang dibuat oleh daerah hanya sebatas seremonial belaka. Masyarakat harus turut merasakan keterlibatan langsung dalam proses pengembangan maritim Kepri”. Ucap Aprianti, aktivis perempuan asal Natuna.
“Buku ini bukan satu-satunya buku yang membahas maritim di Kepri. Namun salah satu bab didalam buku ini, kami menekankan salah satu fokus pengembangan dan pembangunan maritim Kepri pada SDMM dan SDMB. Sejauh ini yang kami dapati, satu-satunya referensi yang membagikan dua SDM yang terdiri dari SDMM dan SDMB ada dibuku ini. ” pungkas Dion.
Bagi masyarakat Kepri khususnya, buku ini dapat diperoleh melalui toko online penerbit deepublisher atau langsung menghubungi penulis di 081261783235.
(RED)



