Korannusantara.id – Labuhanbatu Selatan, 25 September 2025, Air mata Ana Siregar tak terbendung saat menceritakan nasib putranya, REZI (16), siswa kelas X Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Falah, L. Payung. Remaja itu kini harus menjalani perawatan medis setelah diduga menjadi korban kekerasan yang dilakukan gurunya sendiri.
“Sedih sekali saya, hati menangis sebagai seorang ibu tahu anak saya dianiaya gurunya sendiri,” ungkap Ana kepada Info, Kamis (25/9/2025)
Kejadian bermula Kamis, 11 September 2025. REZI yang sedang demam tertidur di kelas. Menurut penuturan keluarga, guru tersebut membangunkannya dengan memukul menggunakan “lobe”. REZI kaget, dianggap melawan, lalu diduga ditendang pada bagian mata hingga kepalanya membentur dinding dan bibirnya terbentur bangku. Korban kemudian diseret sambil ditendang dan dimaki.
Pihak pondok pesantren sempat membawa korban berobat ke klinik di Sukajadi. Namun panas tubuhnya tak kunjung turun, dan matanya tidak bisa dibuka, Sore harinya keluarga mendapat kabar bahwa REZI dirawat di klinik yang sama.
Keluarga telah melaporkan peristiwa ini ke Polres Labuhanbatu Selatan serta Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten. Pemeriksaan medis lanjutan dilakukan, termasuk CT scan, rontgen gigi, konsultasi spesialis mata, saraf, dan psikolog anak. Hasil CT scan menunjukkan adanya pendarahan di otak, empat gigi atas goyang, serta geraham belakang bergeser.
Ana menyebutkan, sudah ada upaya mediasi dari pihak sekolah, namun hingga kini belum mencapai kesepakatan. Ia mengaku pihak sekolah mendatangi rumah bersama aparat dan menawarkan uang ganti rugi dengan syarat keluarga tidak melanjutkan proses hukum. Jumlah yang ditawarkan disebut jauh di bawah biaya pengobatan, dan cara pendekatan tersebut dirasa sebagai bentuk tekanan.
“Kami merasa diintimidasi, bahkan anak-anak diminta membujuk kami agar mau menerima tawaran itu,” ujarnya.
Kasus ini kini berada di Polres Labuhanbatu Selatan. Keluarga berharap aparat penegak hukum dan KPAD dapat mengawal proses hukum hingga tuntas dan menjamin perlindungan korban.
Hingga berita ini dibuat, pihak pesantren dan guru terduga pelaku belum memberikan keterangan resmi kepada media.
( AT )



