Korannusantara.id, Jakarta – Masih segar dalam ingatan publik atas terungkapnya kasus hubungan sedarah atau inses antara abang-adik di Medan dua pekan lalu, masyarakat kemudian digegerkan dengan keberadaan sebuah grup Facebook bernama “Fantasi Sedarah” yang memuat konten berisi ketertarikan seksual dengan sesama anggota keluarga sendiri.
Merespon hal tersebut, Anggota DPD RI, KH. Muhammad Nuh, M.SP merasa miris dan menyesalkan atas fenomena praktik penyimpangan seksual tersebut. Dia menegaskan hal itu tidak lepas dari merebaknya situs-situs dan platfrom media sosial yang memuat konten pornografi.
“Ini kan akibat dari tidak terkontrolnya media sosial yang isinya juga macam-macam. Meskipun Kominfo (kini Komdigi) menyatakan sudah sekian banyak (situs pornografi) diblokir, tapi tetap saja bisa diakses,” ujar Nuh dalam keterangannya, Rabu (21/5/2025).
Oleh karena itu, Senator asal Sumut ini mendorong pemerintah untuk teras gencar menutup berbagai situs negatif termasuk yang memuat pornografi. Sejalan dengan itu Pemerintah juga harus senantiasa mengingatkan pengelola platform medsos agar benar-benar mencegah pemuatan konten-konten yang meresahkan tersebut. “Perlu diingatkan,” katanya menekankan.
Di samping itu, yang tidak kalah penting menurut tokoh agama yang juga pendidik ini, perlu keterlibatan semua elemen untuk terlibat memberikan pemahaman kepada masyarakat agar menghindari praktik terlarang tersebut. Dia pun mengajak untuk bekerja sama.
“Saya pikir ini tanggung jawab bersama. Yang pertama tentu saja pemerintah sebagai penaung bagi semua warga. Yang kedua tokoh-tokoh masyarakat, pendidik,” papar senator dari dapil Sumatera Utara ini.
Terlebih, katanya melanjutkan, pentingnya fungsi keluarga sebagaimana mestinya harus gencar ditanamkan kepada masyarakat. Terutama nilai-nilai agama harus ditumbuhkan dalam keluarga.
“Keluarga perlu dikembalikan fungsinya sebagai pendidik pertama dalam kehidupan ini dan mengokohkan eksistensinya. Jangan sampai orang tua seperti tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan anak-anaknya,” ucapnya.
“Kembali kepada nilai-nilai lah, terutama nilai-nilai agama. Saya pikir tanggung jawab ini yang perlu kita tumbuhkan. Mudah-mudahan secara bertahap, peristiwa-peristiwa seperti ini tidak terulang kembali,” pungkas Nuh. (red)